Senin, Maret 24, 2008

Hukum Foto dan Gambar

 Fotografi dan Memahat

Siapa saja yang tidak bisa menangkap perbedaan antara kedua kata tersebut, akan terpeleset dalam kesalahan seperti yang banyak kita saksikan dewasa ini. Mari kita lihat bersama. Kata al tashwîr (menggambar) banyak muncul dalam hadits-hadits sahih berstatus muttafaq 'alaihi yang mengancam al mushawwirîn (penggambar) dengan azab yang paling pedih. Apakah yang dimaksud dengan kata al tashwîr dalam hadits-hadits tersebut? Banyak sekali praktisi di bidang hadits dan fikih yang menganggap bahwa mereka yang kita namakan di zaman modern ini al mushawwirîn (fotografer, tukang foto, _ pent), setiap orang yang menggunakan kamera dan semua yang mengambil gambar, adalah termasuk dalam kategori mereka yang diancam dalam hadits-hadits tersebut.

Pertanyaannya adalah, apakah penyebutan si pemilik kamera sebagai mushawwir (penggambar) dan penyebutan pekerjaannya sebagai proses tashwîr (menggambar) adalah penyebutan etimologis (lughawi)? Tidak seorang pun akan menduga bahwa bangsa Arab sempat memikirkan hal ini ketika mereka pertama kali melahirkan kalimat tersebut. Maka, penyebutan ini bukanlah penyebutan etimologis. (Karena pada hakikatnya kedua istilah tersebut berbeda, tashwîr tidak sama dengan foto).


Juga, tidak seorang pun akan menyatakan bahwa penyebutan ini adalah penyebutan syar’i. Karena fotografi sama sekali belum dikenal pada masa turunnya tasyri’. Maka tidak mungkin menamai fotografer sebagai mushawwir sebagaimana dalam hadits, sementara ketika itu fotografer belum ada. (Tidak mungkin menamai sesuatu yang belum ada dan sama sekali belum dikenall). Lalu siapa sesungguhnya yang menyebut fotografer itu mushawwir? Kita dan budaya kitalah yang menyebutnya demikian. Para pendahulu kita yang hidup di zaman lahirnya fotografi, merekalah yang menamainya al tashwîr (fotografi).

Sebenarnya mereka-pendahulu kita-bisa saja memberi nama lain kepada fotografi. Mereka bisa menyebutnya al’aks (refleksi) dan orang yang mengerjakannya al ‘akkâs (pengambil refleksi), sebagaimana yang biasa diucapkan oleh penduduk Qatar dan Teluk. Jika salah seorang dari mereka datang ke fotografer atau al ‘akkâs, dia akan mengatakan: “urîdu an ta’kisanî” (secara harfiah berarti: saya mau anda mengambil refleksi saya. Maksudnya saya ingin difoto_pent), dia juga akan mengatakan: matâ âkhuzu minka al ‘akûs? (kapan refleksinya/hasilnya bisa saya ambil?). Penyebutan ini adalah yang paling dekat dengan hakikat fotografi. Sebab fotografi tidak lebih dari merefleksikan gambar dengan alat-alat tertentu, seperti halnya refleksi gambar di depan cermin. 

Hal inilah yang disebutkan oleh Al ‘Allâmah Al Syaikh Muhammad Bukhait Al Muthi’i dalam karyanya ‘Al Jawâb Al Kâfî Fî Ibâhati Al Tashwîr Al Fûtughrâfî’, semasa beliau menjabat sebagai mufti negara Mesir. (Beliau mengatakan: "Bahwa fotografi itu adalah merupakan penahanan bayangan dengan suatu alat yang telah dikenal oleh ahli-ahli teknik (kamera). Cara semacam ini sedikitpun tidak ada larangannya. Karena yang dilarang adalah melukis, yaitu mengadakan gambar yang semula tidak ada dan belum dibuat sebelumnya yang bisa menandingi (makhluk) ciptaan Allah. Sedang pengertian semacam ini tidak terdapat pada gambar yang diambil dengan alat (kamera).

Sebagaimana zaman telah menyematkan nama tashwîr kepada fotografi, ia juga telah menamai proses membuat gambar berbentuk/berjasad sebagai naht (memahat). Inilah yang dikatakan para ulama salaf sebagai sesuatu yang memiliki bayangan (mâ lahû zhillun), dan mereka telah sepakat bahwa hukumnya haram kecuali pada mainan anak-anak. Apakah dengan mengubah namanya dari al tashwîr menjadi naht dapat membuatnya keluar dari koridor ancaman nash-nash yang berbicara tentang al tashwîr dan al mushawwirîn? Tentu saja mutlak tidak! Karena tashwîr jenis ini-naht-adalah yang lebih pantas untuk disebut sebagai al tashwîr secara etimologis dan secara syar’i. Dilihat dari formanya, naht-lah sebenarnya yang dikatakan hendak ‘menandingi’ ciptaan Allah, seperti yang disebutkan dalam hadits qudsi : "Siapakah yang lebih zalim/aniaya dari orang yang bekerja membuat seperti ciptaanku?"          
______________
Dr. Yusuf Al Qaradhawi, Kaifa Nata’âmalu Ma’as Sunnatin Nabawiyyah, Dâr Al Syurûq, cetakan ke empat 2006, hal. 198-199, dengan sedikit penambahan.
Share:

2 komentar:

  1. Aduh, terimakasih banyak ustadz...
    Btw, nama asli antum siapa Ustadz ?
    Nanti biar "belum2"-nya ana tebus... :D

    Tentang tulisan antum yang berhubungan tentang Foto, ana dulu qismu taswier. Jadi, ana disebut al-'akkas ? Berdosakah ana ?

    BalasHapus
  2. Dah lama g sowan....
    ujug2...mau tanya...gpp ya....P.Sayyid
    1."...mereka telah sepakat bahwa hukumnya haram kecuali pada mainan anak-anak"
    Untuk menggambar materi kmd digunakan sbg alat peraga/metode pembelajaran pendidikan anak usia dini..apakah dapat dikategorikan pada mainan anak?
    2.klo menggambarnya via komputer bagaimana hukumnya...misal membuat animasi cerita bertujuan pendidikan(ex:Upin dan Ipin) or sekedar 3D animasi hiburan (ex:Final Fantasy)

    Kazumi ^ ^

    BalasHapus