Rabu, Mei 07, 2008

Bekerja Adalah Doa terbaik

Setelah menyetir terlalu lama sepulang dari kampung, aku mampir sebentar di sebuah restoran. Begitu memesan makanan, seorang anak lelaki berusia lebih kurang 12 tahun muncul di depanku.

Abang mau beli kue?" Katanya sambil tersenyum.
Tangannya segera menyingkap daun pisang yang menjadi penutup bakul kue jajanannya.

"Tidak Dik, Abang sudah pesan makanan," jawabku ringkas. Diapun akhirnya berlalu. Pesanan tiba, aku langsung menikmatinya. Tidak sampai 20 menit kemudian aku melihat anak tadi menghampiri calon pembeli lain. Kali ini sepasang suami istri. Mereka juga menolak tawaran anak itu, dan dia berlalu begitu saja.

"Abang sudah makan, tak mau beli kue saya?" Tanyanya tenang ketika menghampiri mejaku lagi.

"Abang baru selesai makan Dik, masih kenyang nih," jawabku sekenanya sambil menepuk-nepuk perut. Dia pun pergi, tapi cuma di sekitar restoran. Mungkin karena agak lelah, ia meletakkan bakulnya yang masih penuh. Setiap orang yang lewat tak luput dari tawaranya yang sopan sekali, "Mau beli kue saya Bang, Pak... Kakak,... Ibu!!!" "Halus betul budi bahasa anak ini!", gumamku dalam hati. Sambil memperhatikan, terbersit rasa kagum dan kasihan di hatiku melihat betapa gigihnya dia berusaha. Tidak tampak keluh kesah atau tanda-tanda putus asa dalam dirinya, sekalipun orang yang ditemuinya enggan membeli kuenya.

Setelah membayar harga makanan dan minuman, aku lalu menuju mobil. Aku buka pintu, membetulkan duduk, lalu pintu kututup. Sebelum aku sempat menghidupkan mesin, anak tadi sudah berdiri di samping mobil. Dia tersenyum kepadaku. Aku turunkan kaca jendela, dan membalas senyumannya.

"Abang sudah kenyang, tapi mungkin Abang perlu bawa kue saya buat oleh-oleh untuk adik- adik, Ibu atau Ayah abang," katanya sopan sekali, sambil tersenyum. Sekali lagi dia memamerkan kue dalam bakul dengan menyingkap daun pisang penutupnya. Aku tatap wajahnya, bersih dan bersahaja. Timbul perasaan kasihan dihati. Lantas kubuka dompet, lalu kuulurkan selembar uang Rp 20.000 padanya. "Ambil ini Dik! Abang sedekah. Abang tidak usah beli kuenya ya?! " Ucapku ikhlas karena perasaan kasihan yang meningkat mendadak. Anak itu menerima uang tersebut, lantas mengucapkan terima kasih lalu berjalan kembali ke kaki lima restoran. Ada perasaan senang yang tak terlukiskan di hatiku karena bisa membantunya.

Setelah mesin hidup, mobil aku mundurkan. Alangkah kagetnya ketika aku melihat anak itu mengulurkan Rp20.000 pemberianku kepada seorang pengemis buta. Aku terkejut, kuhentikan mobil, lalu kupanggil anak itu.

"Kenapa Bang, mau beli kue ya?" tanyanya.

"Kenapa Adik berikan duit Abang tadi pada pengemis itu? Duit itu Abang berikan buat Adik!" ucapku tanpa menjawab pertanyaannya.

"Bang, saya tak bisa ambil duit itu. Emak marah kalau tahu saya mengemis. Kata emak kita mesti bekerja mencari nafkah karena Allah. Kalau dia tahu saya bawa duit sebanyak itu pulang, sedangkan jualan masih banyak, Mak pasti marah. Kata Mak mengemis adalah kerja orang yang tak mau berusaha, saya masih kuat Bang!" katanya begitu lancar. Aku heran sekaligus kagum dengan pegangan hidup anak itu. Tanpa banyak tanya aku lalu bertanya berapa harga semua kue dalam bakul itu.

"Abang mau beli semua ?" tanyanya. Aku cuma mengangguk. Lidahku terasa kelu sekali untuk berkata.

"Rp 25.000 saja Bang!" Dengan gembira dia memasukkan satu persatu kuenya ke dalam kantong plastik, saya ulurkan Rp 25.000. Dia mengucapkan terima kasih dan berlalu dari pandanganku.

Ya Allah! Aku hanya bisa bertanya-tanya di dalam hati, siapakah mulia yang melahirkan dan mendidik anak itu ? Aku sungguh kagum akan akhlaknya. Dia menyadarkanku, tentang siapa kita sebenarnya.
Share:

0 comments:

Posting Komentar