Rabu, Mei 07, 2008

Makhluk Paling Jelek

Alkisah ada seorang santri menuntut ilmu pada seorang Kyai. Bertahun-tahun ia lewati hingga tibalah masa menghadapi ujian terakhir. Ia menghadap Kyai untuk menerima tugas akhirnya.

"Anakku, kau telah menempuh semua tahapan belajar dengan baik, sekarang hanya tinggal satu ujian lagi. Ujian terakhir ini lumayan berat, semua ilmu yang pernah aku ajarkan, serta kebijaksanaanmu akan diuji ", kata Kyai.

"Baik Kyai, apakah gerangan yang harus ananda lakukan?"

"Carilah orang atau makhluk yang lebih jelek dari kamu. Kamu boleh mencari di mana saja semampumu. Waktumu hanya tiga hari, dan hasilnya harus kamu serahkan tepat waktu ". Santri lalu melangkah meninggalkan rumah Kyai dengan kepala dipenuhi seribu pertanyaan.

Hari pertama, santri berpapasan di jalan dengan Fulan yang berjalan sempoyongan . Tangannya menggenggam botol, matanya merah. Fulan adalah pemabuk nomor wahid di kampung santri. Santri bergumam, " Tak salah lagi, pasti inilah makhluk yang lebih jelek dari aku. Sejak kecil aku sudah diajari ibadah, sekarang nyantri lagi! Dia? Bagaimana salatnya? Ngajinya?"
Sesampainya di rumah, mendadak akalnya berontak, "Ah..belum tentu! Sekarang boleh saja Fulan mabuk-mabukan, tapi siapa tahu pada akhir hayatnya Allah berkenan memberinya hidayah lalu dia husnul khâtimah! Aku, sekarang boleh saja banyak ibadah tetapi jika pada akhir hayat malah sû'ul khâtimah? Dia belum tentu lebih jelek dari aku!"

Hari kedua, santri sedang duduk memikirkan tugas dari gurunya. Lamunannya terusik oleh bau tak sedap. Seekor anjing menjijikkan lewat tepat di depannya. Bulunya kusut, badannya penuh koreng. Otak santri berpikir cepat, matanya berbinar, " Ini dia yang lebih jelek dari aku! Anjing ini sudah haram dimakan, liurnya najis, kudisan, jelek lagi! " Santri senang sekali.

Selepas salat malam santri merenung kembali, "Kalau anjing itu mati, selesailah urusannya. Dia tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya oleh Allah, dia tidak akan dihisab, dia tidak punya buku catatan amal. Sementara aku justru akan diadili kelak, amalku akan ditimbang, tanpa ada yang terlewatkan walau sebesar zarrah. Jika dosaku lebih berat, celakalah aku! Aku tidak lebih baik dari anjing itu!"

Hari ketiga, hari penentuan. Santri datang menghadap. "Bagaimana anakku, sudahkah kamu temukan makhluk yang lebih jelek dari kamu?" Tanya Kyai lembut, namun penuh wibawa. "Sudah guru", santri menjawab. " Ternyata orang yang paling jelek adalah saya guru", lanjutnya. Kyai tersenyum, "Anakku, kamu aku nyatakan lulus!"
Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada kesombongan walau sebesar zarrah. Satu-satunya yang berhak sombong adalah Allah swt.
Share:

0 comments:

Posting Komentar