Minggu, Juni 22, 2008

Bingkisan Kecil Untuk Muktazilah

Dimasa pemerintahan Khalifah Harun Al Rasyid (766-809 M/ 149-193 H), umat islam pernah menerima tantangan untuk berdebat seputar masalah teologis dari kelompok Al Sumniyyah*. Pimpinan kelompok ini memohon kepada rajanya di negeri Hind agar mengirimkan surat tantangan langsung kepada Harun Al Rasyid. Dalam surat tersebut mereka meminta agar yang menjadi wakil umat islam adalah ulama yang paling pandai di seantero kota Baghdad-ibukota khilafah ketika itu-agar debat dianggap adil, karena yang akan dihadapi adalah langsung pimpinan tertinggi kelompok Al Sumniyyah. Yang membuat debat ini bernilai sejarah tinggi adalah, bahwa kelompok ini menerapkan satu syarat yang membuat kebesaran nama agama islam menjadi taruhan; pihak yang kalah harus rela memeluk agama pihak yang menang!


Setelah melalui pertimbangan yang mendalam, akhirnya Harun Al Rasyid memutuskan untuk mengutus Qadhi tertinggi kota Baghdad yang merupakan ahlul hadîts, atau lebih dikenal dengan golongan literalis.


Dengan disaksikan Raja Sind dan para pembesar kerajaannya, debat pun dimulai. Al Sumny, pemimpin kelompok Al Sumniyyah bertanya :
"Beritahulah kami tentang Tuhanmu, apakah Dia Maha Kuasa?"


Qadhi menjawab : "Ya, tentu saja!"


Al Sumny : "Lalu apakah Dia mampu menciptakan tuhan lain yang persis sama dengan-Nya?"


Sampai disini sang Qadhi bingung bukan main, bagaimana ia harus menjawab pertanyaan ini?!" Apabila ia mengatakan "Ya, Allah mungkin saja dan bisa menciptakan sesuatu yang sama dengan-Nya?" maka ia telah meyakini politheisme (kepercayaan terhadap lebih dari satu tuhan). Sebaliknya, jika ia mengatakan "Allah tidak mampu berbuat seperti itu" maka dia telah menyatakan bahwa Allah memiliki sifat 'tidak mampu', atau Allah memiliki kelemahan. Dan ini jelas-jelas tidak mungkin! Akhirnya sang Qadhi menemukan celah untuk keluar, dia menjawab:


"Permasalahan ini termasuk dalam kalâm (ilmu kalam), sementara ilmu kalam adalah bid'ah, dan para sahabat kami mengingkari ilmu kalam.


Al Sumny : "Siapakah sahabat-sahabat kalian?"


Qadhi : "Muhammad ibn Al Hasan, Abû Yûsuf dan Abu Hanîfah.


Mendengar jawaban sang Qadhi, Al Sumny lantas menoleh kepada rajanya dan berkata :
"Sekarang saya sudah memberitahu paduka tentang agama mereka, dan saya juga sudah mengungkap kebodohan dan taklid mereka, dan kecenderungan mereka menggunakan pedang dalam urusan mereka!"


Qadhi tertinggi kota Baghdad pun pulang ke negerinya dengan kepala tertunduk. Ia juga membawa sepucuk surat dari raja Sind untuk Harun Al Rasyid yang dalamnya ia berkata : "Sesungguhnya aku yang memulai semuanya, sedang aku tidak yakin akan apa yang kudengar tentang agama Anda. Tapi, sekarang aku sudah yakin tentang semua yang diceritakan rakyatku tentang agama Anda dengan hadirnya Qadhi ini di kerajaanku."


Kata-kata raja Sind membuat Harun Al Rasyid berang. Dadanya sesak. Dia lalu berteriak: "Apakah tidak ada satupun yang mampu berdebat membela agama ini?"


Syahdan, ketika itu para penguasa dinasti Abbasiyah menjalankan aksi penyiksaan dan penekanan terhadap penganut paham Muktazilah. Sebab, Muktazilah bersama para 'Alawiyyîn cenderung menghendaki agar kekuasaan tetap dipegang oleh ras Arab, dan menolak dominasi ras Persia dalam tatanan pemerintahan.


Salah seorang kerabat Harun Al Rasyid kemudian mengusulkan agar ia memberi kesempatan kepada para ahli ilmu kalam –Muktazilah-karena hanya merekalah yang mampu berhadapan dengan Al Sumny dalam permasalahan ini. Seandainya mereka dibebaskan dari penjara, lalu khalifah menugaskan mereka untuk itu, maka menurut sang kerabat, mereka pasti mampu membela dan membawa kemenangan untuk islam.


Harun Al Rasyid kemudian memerintahkan agar beberapa orang Muktazilah dibawa ke hadapannya. Lalu ia memaparkan pertanyaan Al Sumny kepada mereka. Salah seorang dari mereka, Mu'ammar bin 'Abbâd (215 H-830 M) yang berusia masih muda memecahkan masalah tersebut dengan cara yang sangat cerdas di depan Harun Al Rasyid. Maka ia langsung diutus ke negeri Sind, dan perdebatan pun berlangsung kembali :


Al Sumny : "Apakah Tuhanmu Maha Kuasa?"
Mu'ammar : "Ya."


Al Sumny : "Kalau begitu, apakah Dia mampu menciptakan tuhan lain yang serupa dengan-Nya?"


Mu'ammar : "Pertanyaan ini mustahil! Karena makhluk itu pati muhdats (bersifat baru, datang kemudian), dan yang muhdats mustahil bisa menjadi seperti yang qadîm (yang paling terdahulu, tidak ada yang mendahuluinya). Maka pertanyaan semisal "Apakah Dia mampu menciptakan tuhan yang seperti Dia, atau tidak?" adalah mustahil sebagaimana mustahilnya pertanyaan "Apakah Dia mampu untuk menjadi bodoh?" atau "Apakah Dia mampu untuk menjadi lemah?"


* Al Sumniyyah adalah kelompok atau golongan pakar filsafat di India yang tidak percaya terhadap hal-hal metafisik, hanya percaya kepada hal-hal yang bersifat hissiyyât.
____________________________
Dr. Muhammad Imarah, Maqâm al 'aql fi al islâm, Hal. 22, Nahdet Misr, cetakan pertama Februari 2008.
Share:

0 comments:

Posting Komentar