Kamis, Desember 04, 2008

Kenapa Wanita Harus Memakai Mukena Ketika Salat?

Kenapa wanita harus memakai mukena ketika salat? Memangnya takut dilihat siapa? Apakah ada orang jahil yang suka mengintip wanita salat sehingga harus pakai mukena? Bukankan biasanya salat lebih sering dilakukan dalam ruangan tertutup, lalu (lagi-lagi) kenapa harus pakai mukena? Kenapa mukena harus berwarna putih?
 
Pertanyaan-pertanyaan di atas akan terkesan lugu dan lucu jika diucapkan seorang muslim. Namun pertanyaan senada akan berubah menjadi menghujat jika yang bertanya adalah non-muslim. Bagi yang awam, bahkan bisa membuka pintu untuk keraguan.
 
Saya yakin, masih ada saja muslim atau muslimah yang bingung ketika dihadapkan kepada pertanyaan-pertanyaan di atas, terutama yang masih awam. Bagaimana dengan Anda?
 
Jawaban dari pertanyaan di atas sebenarnya simpel saja. Kita balikkan pertanyaannya, siapa bilang muslimah harus memakai mukena ketika salat?


Sebagaimana yang kita ketahui, memang salah satu syarat sahnya salat seseorang adalah menutup aurat. Dan aurat wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Maka wanita diwajibkan untuk menutup seluruh tubuhnya-kecuali muka dan telapak tangan-ketika ia salat. Tapi, tidak ada satu dalil pun yang mengharuskan wanita memakai mukena ketika salat.

Dalam buku-buku fikih, baik klasik maupun kontemporer, setahu saya tidak ada ulama yang mengharuskan wanita memakai jenis pakaian tertentu ketika salat. Karena Rasulullah saw. sendiri tidak pernah mengkhususkan pakaian tertentu yang hanya dikenakan waktu salat. Hal ini bisa kita lihat dari sebuah hadis yang menyatakan bahwa Ummu Salamah bertanya kepada Nabi saw,  "Apakah wanita boleh salat dengan hanya menggunakan pakaian  biasa dan kerudung tanpa kain?" Nabi saw. Berkata, "Boleh, asal pakaian itu panjang dan menutupi kedua punggung (bagian atas ) kakinya" (1)
 
Jadi, yang wajib adalah menutup aurat, bukan memakai mukena. Karena tidak ada satu dalilpun yang menyatakan bahwa memakai mukena itu wajib. Mukena hanya dikenal-mungkin- di tempat kita saja. Dimana kebanyakan para wanitanya belum berpakaian sesuai tuntunan agama islam. Mereka masih memperlihatkan bagian-bagian tubuh yang menurut islam adalah aurat. Karena kondisi yang seperti itu, lahirlah mukena.
 
Di Timur Tengah dan negara arab, pakaian bernama mukena ini tidak begitu dikenal. Karena para wanita di sana mengenakan pakaian yang menutup aurat dalam kesehariannya, meski tidak semua. Sebut saja Saudi dan Yaman, dua negara ini mewajibkan warganya yang wanita untuk memakai pakaian yang menutup seluruh tubuh. Jadi, kalau mereka salat, tidak perlu repot-repot memakai dan melepas mukena. Republik Islam Iran juga menerapkan peraturan yang kurang lebih sama bagi rakyatnya. Demikian juga di beberapa negara arab lainnya, seperti Mesir.
 
Harus berwarna putih? Ah, tidak juga. Malah saya jarang sekali menemukan khimar yang berwarna putih di sini. Di Yaman dan Mesir, warna pakaian wanita biasanya hitam. Warna putih sering dipilih sebagai warna mukena di Indonesia, mungkin karena terkesan lebih adem dan bersih. Mungkin juga karena ada hadis yang menyebutkan bahwa Rasulullah saw. menyukai warna putih.

Salah satu hikmah yang bisa diambil dari kewajiban menutup aurat ketika salat ini adalah bahwa betapa akhlak dan adab sangat dijunjung tinggi dalam Islam.  Sampai-sampai walaupun kita salat  sendiri di tempat yang sunyi, walaupun kita yakin bahwa sama sekali tidak ada yang melihat baik hewan maupun manusia,  kewajiban ini tetap tidak gugur. Karena kita sedang menghadap Allah swt. Pencipta alam semesta beserta seluruh isinya.

Kata "Aurat" sendiri, jika ditinjau dari segi bahasa berarti sesuatu (bagian tubuh) yang ditutupi manusia karena malu atau karena tidak ingin dilihat orang lain. Jika kita merasa malu bila aurat kita terlihat oleh manusia yang kemampuan penglihatannya terbatas, maka kita lebih patut untuk malu memperlihatkannya di hadapan Allah swt. Yang Maha Melihat, Pencipta penglihatan.

Kesimpulannya, memakai mukena tidak harus. Boleh memakai apa saja asal dapat menutup aurat, dan sesuai dengan tuntunan Islam. Memakai mukena bukan karena takut diintip, takut ini dan itu, tapi murni karena ketaatan, ketundukan, dan bentuk adab sopan santun (akhlak) kepada Allah swt. 
_________________________
(1) Diriwayatkan oleh al Imâm Abû Dawûd dalam sunannya, hadis no. 639 dan 640. Juga oleh al Imâm Hâkim dalam al Mustadrak, hadis no. 915.
Share:

1 komentar:

  1. Post yang bagus, dan saya suka isinya.

    ^^

    Salam kenal

    BalasHapus