Selasa, Desember 02, 2008

Saatnya Hijrah ke Qatamiyah

“Kok, cuma dapat LE 491?” Badawi, mahasiswa asal Medan, kaget bukan main ketika menghitung jumlah kirimannya untuk bulan November. Betapa tidak, biasanya dengan nominal 1 juta rupiah yang dikirim orangtuanya Ia bisa menerima di atas LE 500. Operator penyedia layanan jasa pengiriman uang yang mengantarkan kirimannya lalu menjelaskan kronologi kempesnya isi amplop kali ini dengan amat sabar. Maklum, ini masalah duit! Masalah perut! "Ooo, gitu ya?" Hanya kalimat itu yang bisa diucapkan Badawi dengan ekspresi lemas, setelah mengetahui masalah yang sebenarnya. Ia dan banyak lagi mahasiswa yang senasib dengannya, kontan dilanda shock ringan ketika mengetahui nilai rupiah yang mendadak merangkak di hadapan Dolar serta beberapa mata uang dunia lainnya.
 
Wall Street yang sedang terpuruk di negeri Paman Sam sana, menghantam Rupiah bertubi-tubi. Sebelum terjadinya Wall Street Crash 2008 nilai tukar rupiah sempat stabil pada nominal 9000-an. Kini, Rupiah malah sudah tenggelam di level 12.000 lebih. Angka terendah yang pernah tercatat dalam sejarah Rupiah. Di hadapan Pound Mesir nilai tukar Rupiah juga mengalami penurunan yang sangat drastis. Tahun 2006 Rupiah berada pada level 1.500, dan pada tahun 2007 yang lalu turun ke level 1.700, lalu pada 2008 ini nilai Rupiah turun secara perlahan namun pasti hingga menembus level 2.200 lebih. Tak ayal, Masisir pun mengeluhkan kondisi ekonomi yang makin hari terasa makin menghimpit.
 
Saat ini, kesan bersahabat yang melekat pada Pound seolah perlahan-lahan pudar di mata Masisir. Mengingat semakin tingginya biaya hidup dan harga kebutuhan sehari-hari yang semakin mahal.
 
Dari sekian banyak dampak krisis yang dirasa sangat berpengaruh pada kehidupan Masisir adalah harga sewa rumah yang ikut naik. Hal ini kemungkinan besar berhubungan erat dengan krisis ekonomi dunia yang juga turut dirasakan oleh Mesir. Tidak sedikit tuan rumah yang menaikkan harga sewa rumahnya, khususnya rumah-rumah yang berlokasi di kawasan Asyir, Sabi’, Tsamin dll. Jumlah kenaikannya pun beragam. Ada harga sewa rumah yang hanya naik LE 25 sampai LE 50. Namun, ada juga tuan rumah yang menaikkan harga hingga LE 200 dari harga sewa rumah sebelumnya. Kenaikan sewa rumah ini memang tidak dirasakan semua Masisir, melihat di kawasan-kawasan tersebut di atas dan beberapa kawasan lain masih terdapat rumah dengan harga dibawah LE 500. Mayoritas rumah yang tidak mengalami kenaikan drastis itu adalah rumah dengan akad lama. Berbeda jika dibandingkan dengan rumah yang akad baru, hampir semuanya di atas LE 1000. Hingga tak heran jika sejumlah Masisir memilih untuk meninggalkan rumahnya dan mencari alternatif dengan mencoba membidik lowongan baik di Madinatul Bu'uts maupun Jamiyyah Syar'iyah.
 
Harga sewa rumah setiap tahun rata-rata memang mangalami kenaikan. Keterangan yang diperoleh informatika dari beberapa mahasiswa senior menguatkan hal itu. Misalnya Supri, mahasiswa yang sudah 3 tahun menghirup udara padang pasir ini mengatakan bahwa harga sewa rumah pada awal kedatangannya tahun 2005 hanya sebesar LE 500 . Lalu pada tahun 2006 sampai 2007 naik menjadi LE 600-an bahkan LE 700. Sedang untuk tahun 2008 ini sewa rumahnya sudah mencapai LE 1000. Ada juga Fuad, yang tinggal di bilangan Bawabah III dengan sewa rumah LE 850 perbulan. Menurutnya, setelah mengamati sejumlah rumah tetangga yang masih menggunakan akad lama, saat ini sangat sulit untuk menemukan rumah dengan sewa di bawah LE 700 di daerah Bawabah. Sementara untuk akad baru, rata-rata harga rumah dipatok antara LE 900 hingga LE 1000 bahkan lebih. Hal senada juga diungkapkan Asmophur, mahasiswa yang sudah 2 tahun tinggal di daerah Gami'. Ia menyatakan bahwa rumah dengan sewa di bawah LE 600 bisa dikatakan langka di sekitar tempat ia tinggal. Pernyataan ini diamini pula oleh Benyamin, mahasiswa yang tinggal di Mutsallas.

Para mediator yang sedang mencari rumah untuk para calon mahasiswa baru (camaba) juga mengeluhkan harga akad baru yang sudah mencapai di atas LE 1000. Karena tidak hanya hanya itu yang akan menjadi beban yang harus dibayar, tapi juga ta'min yang tomatis naik seharga igar asli. Jadi paling tidak jumlah budget yang harus dipersiapkan untuk setiap akad adalah LE 2000. Memang ada beberapa tuan rumah yang baik dan meminta ta'min setengah harga sewa, tapi itu jarang sekali.
 
Menyikapi kenaikan dan krisis ini berbagai reaksi dan keluhan mengalir dari Masisir. Beberapa malah sudah kelihatan bermanuver. Rosa misalnya (bukan nama sebenarnya), mahasiswi ini awalnya tinggal di bilangan Rab'ah namun akhirnya memilih untuk hijrah ke asrama JS. Ia mengaku, “Salah satu alasan saya masuk JS ya, karena sekarang harga rumah saya udah LE 1000 dan susah banget kalau mau nyari rumah lagi”. Lain lagi dengan Wahyu, mahasiswa Fakultas Syari'ah ini tidak mau terlalu dipusingkan oleh kenaikan harga rumah dan krisis yang sedang terjadi. Untuk menutupi kekurangan biaya tanpa harus menekan anggaran belanja sehari-hari, ia lebih memilih jalan pintas dengan meminta tambahan uang saku kepada orang tuanya. Jalan serupa juga ditempuh Nur Ahmad, mahasiswa Fakultas Bahasa Arab.

Untuk mengatasi masalah ini serta untuk menghindari membengkaknya pengeluaran, banyak mahasiswa yang memilih untuk menambah jumlah penghuni rumahnya, baik dari mahasiswa lama maupun dari camaba. Beberapa mengaku melakukan penambahan tersebut tanpa sepengetahuan pemilik rumah. Sebab tidak semua tuan rumah mau bersikap tasamuh. Ada tuan rumah yang membatasi satu kamar untuk hanya 2 bahkan 1 orang. Contohnya di Tafahna, seorang mahasiswa tingkat 3 yang bernama Hannan mengatakan tuan rumahnya membuat ketentuan bahwa perkamar hanya boleh dihuni oleh satu orang saja.

Selain itu, banyak juga yang memutuskan untuk hijrah ke asrama. Sebut saja Zahra', mahasiswi yang sebelumnya tinggal di kawasan Madrasah ini, kini sudah seminggu lebih pindah ke asrama JS. Menurut penuturannya, seluruh proses pendaftaran untuk masuk ke asrama tersebut tidak sulit. Buktinya Ia hanya membutuhkan waktu 2 hari untuk menyelesaikan urusan pindahnya. Itupun karena ada beberapa berkas yang terlupa sehingga belum sempat dilengkapi. "Kalau tidak karena kelupaan sebenarnya satu hari juga bisa kok!", ujarnya.
 
Sementara bagi para mahasiswa, Bu'uts tampaknya masih menjadi alternatif favorit. Sejumlah mahasiswa mengaku sudah jauh-jauh hari mengajukan permohonan untuk bisa masuk ke asrama yang satu ini. Meski pada akhirnya, banyak diantara mereka yang patah semangat lantaran permohonannya yang berujung tidak jelas. Salah satunya adalah Andre, mahasiswa tingkat III Fakultas Ushuluddin, mengaku putus asa menindaklanjuti proses masuknya di Bu'uts yang tidak kunjung diterima. Padahal ia sudah mengajukan berkasnya sejak akhir liburan musim panas yang lalu. Andre memutuskan untuk menghentikan usahanya, ia menyerah. Berbeda dengan Andre, ternyata ada juga mahasiswa yang urusan masuk Bu'utsnya malah mulus-mulus saja. Isa misalnya, mahasiswa tingkat III jurusan Hadis ini menyatakan bahwa proses masuknya hanya memakan waktu kurang lebih satu minggu. Selain Andre dan Isa, saat ini masih banyak lagi mahasiswa yang terus berjuang dengan kesabaran penuh menunggu kelanjutan nasib thalab-nya yang sudah berminggu-minggu masuk ke Bu'uts. Berurusan degan orang Mesir memang membutuhkan keuletan dan kesabaran ekstra.
 
Bagi mahasiswa yang tidak ingin direpotkan dengan birokrasi asrama yang terkadang rumit, daerah-daerah dengan harga rumah murah tampaknya menjadi alternatif yang cukup baik. Qatamiyah misalnya, harga rumah di daerah ini masih berada pada kisaran LE 350. Rumah dengan harga serupa juga masih bisa ditemukan di daerah Duwaiqah, Darrasah serta sekitar Husain. Untuk tiga kawasan terakhir, tentunya fasilitas dan kualitas rumahnya berada dibawah rumah di Hay Asyir. Rumah-rumah di daerah luar Kairo seperti Tafahna, Thanta dan Mansoura tampaknya juga tidak salah kalau dilirik. Mengingat harga rumah di sana yang relatif masih murah dan terjangkau. Bagi mahasiswa yang tidak ingin kemana-mana, sementara kondisi keuangan semakin seret, tampaknya tak banyak yang bis dilakukan kecuali berusaha menekan pengeluaran dan sebisa mungkin menghemat biaya belanja serta memangkas anggaran-anggaran sekunder.


Hasil keroyokan bersama Sariyah dan Zulfadhli. Dimuat di Buletin Informatika edisi 140 rubrik Suara Mayoritas.
Share:

0 comments:

Posting Komentar