Kamis, Februari 05, 2009

Mereka Menyerang Kalian Dalam Diam

Di suatu sekolah, di negeri antah berantah. Seorang wanita berjilbab rapi tampak sedang asyik mengajar murid-muridnya. Ia berdiri  sambil memegang kapur di tangan kirinya dan penghapus di tangan kanannya. Ia lalu berkata, "Saya punya permainan…" Murid-murid mulai kelihatan antusias.

"Caranya begini, di tangan kiri saya ada kapur, di tangan kanan ada penghapus. Jika saya angkat kapur ini, maka berserulah "Kapur!", jika saya angkat penghapus ini, maka berserulah "Penghapus!"

Murid-muridnya pun mengerti dan mengikuti. Sang Guru berganti-gantian mengangkat antara kanan dan kiri tangannya, semakin lama semakin cepat. Beberapa saat kemudian Sang Guru kembali berkata,

"Baik sekarang perhatikan. Jika saya angkat kapur, maka berserulah "Penghapus!" Jika saya angkat penghapus, maka katakanlah "Kapur!" Dan dijalankanlah adegan seperti tadi, tantu saja munid-munid kerepotan dan kelabakan, dan sangat sulit untuk merubahnya. Namun lambat laun, mereka bisa beradaptasi dan hal itu tidak lagi terasa sulit. Selang beberapa saat, permainan berhenti. Sang Guru tersenyum kepada murid-munidnya.

"Anak-anak, begituah kita ummat Islam. Mulanya yang haq itu haq, yang bâthil itu bâthil . Kita begitu jelas membedakannya. Namun kemudian, musuh-musuh kita memaksakan kepada kita lewat berbagai cara, untuk memutar-balikkan  yang haq menjadi bâthil, dan sebaliknya. Pertama-tama mungkin akan sulit bagi kita menenima hal tersebut, tapi karena terus disosialisasikan dengan cara-cara yang menarik oleh mereka, akhirnya lambat laun kita terbiasa. Lalu kita pun mulai mengikutinya dengan suka rela. Musuh-musuh kita tidak akan pernah berhenti memutar-balikkan nilai-nilai".

"Pacaran tidak lagi sesuatu yang tabu, zina tidak lagi jadi persoalan, pakaian mini menjadi hal yang lumrah, sex sebelum nikah menjadi suatu hiburan, berjilbab tapi telanjang jadi mode, materialisme dan permisivisme kini menjadi suatu gaya hidup pilihan, dan lain lain."

"Semuanya sudah terbalik. Dan tanpa disadari, kalian sedikit demi sedikit menerimanya. Paham?" tanya Bu Guru kepada murid-munidnya.

"Paham Buu..."

"Baik, permainan kedua..."

Bu Guru berhenti sebentar mengambil mushaf yang ada di atas mejanya lalu melanjutkan, "Bu Guru punya mushaf, Ibu letakkan di tengah karpet. Nah, sekarang kalian berdiri di luar karpet. Permainannya adalah, bagaimana caranya mengambil mushaf yang ada di tengah tanpa menginjak karpet?"

Murid-murid berpikir keras. Ada yang punya alternatif dengan tongkat, ada yang ingin memanjat dan mengambilnya dari atas dan lain-lain. Karena tidak ada yang berhasil akhirnya Sang Guru memberikan jalan keluar; ia menggulung karpetnya lalu mengambil mushaf tersebut. Ia memenuhi syarat, tidak menginjak karpet.

"Anak-anak, begitulah ummat Islam dan musuh-musuhnya. Musuh-musuh Islam tidak akan menginjak-injak kita dengan terang-terangan. Karena tentu kita akan menolaknya mentah-mentah. Preman pun tak akan rela kalau Islam dihina di hadapan mereka. Tapi mereka akan menggulung kita perlahan-lahan dari pinggir, sehingga kita tidak sadar."

"Jika seseorang ingin membangun rumah yang kuat, maka dia harus membangun pondasi yang kuat. Begitu juga Islam, jika ingin kuat, maka bangunlah aqidah yang kuat. Sebaliknya, jika ingin membongkar rumah, akan sulit kalau membongkar pondasinya dulu. Tentu saja hiasan-hiasan dinding akan dikeluarkan dulu, kursi dipindahkan dulu, lemari disingkirkan dulu satu per satu, baru kemudian rumah dihancurkan" .

"Begitulah musuh-musuh Islam menghancurkan kalian. Mereka tidak akan menghantam terang-terangan, tapi mereka akan perlahan-lahan mencopot kalian. Mulai dari perangai kalian, cara hidup, model pakaian dan lain-lain. Sehingga meskipun kalian muslim, tapi kalian telah meninggalkan ajaran Islam dan mengikuti cara mereka... Dan itulah yang mereka inginkan."

"Ini semua adalah fenomena Ghazwul Fikri (Perang Pemikiran). Dan inilah yang dijalankan oleh musuh musuh kalian... Paham ànak-anak?"

"Paham Buuu…" jawab murid-murid serentak.

"Kenapa mereka tidak berani terang-terangan menginjak-injak Islam, Bu?" tanya seorang murid.

"Sesungguhnya dahulu mereka terang-terangan menyerang, misalnya pada Perang Salib, Perang Tartar dan lain-lain.  Tapi sekarang tidak lagi."

"Begitulah umat Islam... Kalau diserang terang-terangan, mereka sontak akan bangkit dan melawan. Tapi kalau diserang secara perlahan dan tersembunyi, mereka tidak akan sadar. Lalu lama kelamaan akan ambruk sendiri."

"Paham anak-anak?"

"Paham Buu.."

"Kalau begitu, kita selesaikan pelajaran kita kali ini, mari kita berdoa dahulu sebelum pulang..."

Matahari bersinar terik tatkala anak-anak itu keluar meninggalkan tempat belajar mereka dengan pikiran masing-masing di kepalanya.

Source : Unknown
Share:

3 komentar:

  1. SEGLA PUJI BAGI ALLAH

    BalasHapus
  2. mohon Ijin KOPAS ke milis saya. jazakumullah khair - amee

    BalasHapus
  3. TWO THUMBS
    Metode pembelajaran yang bagus..Pak Sayyid....
    Kazumi ^ ^

    BalasHapus