Rabu, September 23, 2009

Alumni Masjid al Ikhlas


"Di Kairo, puasa hanya 3 jam!" Kelakar ini awalnya akan membuat yang mendengar sedikit bingung, meragukan. Tapi bagi mereka yang benar-benar memahami seluk beluk hidup dan kehidupan Masisir (Mahasiswa Indonesia di Mesir), pernyataan itu tentu menggelitik dan memancing tawa. Bila dirunut, asal muasal sebaris kalimat tersebut sebenarnya berbau sindiran akan kebiasaan sebagian kecil Masisir-untuk tidak mengatakan kebanyakan dan tidak menggeneralisir- yang menghabiskan waktu-waktu produktif saat berpuasa untuk tidur.


Tidur, pada hari-hari Ramadhan mendadak naik pangkat. Dengan bangga, mereka-sebagian kecil Masisir itu- berapologi dengan menyematkan nama baru bagi aktifitas tidur: ibadah orang yang sedang berpuasa. Biasanya, ibadah dengan durasi terpanjang ini dimulai selepas shalat subuh dan berlangsung hingga usai shalat zuhur bahkan beberapa menit sebelum azan shalat ashar berkumandang. Alhasil bila dihitung-hitung, para pegiat ibadah yang satu ini hanya berpuasa menahan lapar dan dahaga hanya selama lebih kurang tiga sampai empat jam saja. Kairo memang indah!


Fenomena yang sama sangat mungkin juga terjadi di belahan bumi yang lain. Tapi, tentu saja ketika fenomena ini terjadi di sini, di Kairo, ia akan memiliki nilai keunikan tersendiri, semua sudah tentu tahu mengapa.


Selain ibadah dengan durasi terpanjang tersebut, Ramadhan Masisir di Kairo masih menyimpan banyak hal unik lainnya. Salah satunya adalah fenomena menjamurnya "masjid-masjid" baru dan hal itu terjadi di rumah-rumah Masisir. Masjid-masjid tersebut biasa disebut al-Ikhlas atau at-Taqwa, tapi sebutan yang pertama lebih sering terdengar. Yang unik, biasanya "masjid-masjid" tersebut hanya akan dipenuhi jama’ah pada malam hari saja, waktu shalat tarawih. Bila ditanya mengapa, tentu saja para jama’ah "masjid-masjid" tersebut mempunyai alasan masing-masing. Mungkin saja, akan ada yang beralasan mementingkan kualitas shalat karena shalat di masjid beneran biasanya memakan waktu lebih lama. Maka, daripada shalat di masjid yang durasi shalatnya cukup untuk membuat kedua betis kram lantas menyebabkan kita menggerutu sepanjang shalat, bukankah akan lebih baik bila kita shalat di tempat yang selesai sedikit lebih cepat? Mungkin pula ada diantara mereka yang merasa lebih khusyu’ bila shalat di rumah sendiri. Yang jelas, tanpa ada niat menghukumi apalagi menghakimi, hal ini memiliki nilai keunikan tersendiri dan mungkin tidak ditemukan di tempat lain.


Pastinya, alumni masjid as-Salam atau al-Azhar tidak seyogyanya merasa sedikit lebih baik daripada alumni masjid al Ikhlas. Karena, sebagaimana telah jamak diketahui bahwa "ana khairun minhu" atau merasa diri lebih baik itulah yang menyebabkan Iblis menjadi seperti apa ia sekarang.


Tak kalah menarik dari dua fenomena di atas adalah aktivitas berburu musâ’adah yang memang akan semakin marak di hari-hari Ramadhan, khususnya sepuluh hari terakhir. Kita mungkin sudah sering mendengar bahwa orang Mesir akan lebih banyak yang menjadi seperti Musa as. bila Ramadhan datang. Terkait dengan musâ’adah sempat terdengar kabar tak sedap dari beberapa tempat pembagian bantuan tersebut. Seorang teman mengaku melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana seorang mahasiswa Indonesia secara diam-diam menyembunyikan selembar daftar nama-nama calon penerima bantuan-yang notabene adalah temannya sendiri- ke dalam sakunya. Entah karena alasan apa, yang jelas pemilik nama-nama tersebut pada akhirnya gagal mendapatkan hak mereka. Seorang teman yang lain juga menuturkan pengalamannya menerima pengaduan tiga kasus perampasan hak dalam satu hari. Ketiga korban yang mengadu padanya mengalami hal serupa: selembar uang tunai yang seharusnya dibagi rata untuk dua orang mahasiswa ternyata dibawa kabur oleh penerima pertama, tanpa sepengetahuan korban. Miris! Masisir memang beragam.


Keberagaman Masisir juga tercermin dalam perburuan Lailatul Qadr yang didamba setiap orang itu. Ada yang rela menempuh jarak yang lumayan jauh untuk dapat menikmati indahnya tarawih di masjid tertentu, ada pula yang tetap di tempat. Ada yang rela menghabiskan detik-detik indah malamnnya dengan beri’tikaf, ada pula yang "bersusah payah" menghitung menit-menit sepuluh hari terakhir sambil berselancar di dunia maya.


‘Alâ kulli hâl, Masisir adalah manusia-manusia yang sudah cukup dewasa, tahu dan benar-benar paham bahwa setiap tindakan memiliki konsekwensi tersendiri. Sekarang, Ramadhan telai usai. Rapor sekolah Ramadhan telah dibagikan. Mari kita lihat bersama, adakah goresan merah di deretan nilai kita? Bila ada, semoga ada sedikit sesal yang dapat memacu kita memperbaiki diri.


Tapi, sesekali terpikir juga sebuah pertanyaan menggelitik: bila mereka yang berada jauh di bumi pertiwi sana, mendengar bocoran tentang angka merah pada rapor kita-bila ada-apakah mereka yang dulu pernah menjadi korban "sihir" Ayat-ayat Cinta, masih mendamba? Masihkah akan terucap, “Kamu mau gak jadi Fahri-ku?” atau “Carikan aku Aisyah dong!”? Semoga saja masih.


Selamat hari raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin.




Share:

1 komentar:

  1. wkwkwkkw....nice tread bro
    i think this story is based on ur truly experience ^_^ :d
    Happy Ied Fitri

    BalasHapus