Rabu, November 11, 2009

Puisi Pendosa

Mataku terbelalak
menatap kata-kata merah bara
Nalarku terenyak
Bulir-bulir sinis berhamburan
jejali angkasa
Rangkaian aksaranya
menertawakanku
menghina!
Terbahak keras
lampaui suara terdahsyat yang pernah didengar manusia

Ketika aku berpeluh keluh
merangkak menyeret ringkih tubuh
mendekat
melambai menggapai pintu insaf
mereka menyunggingkan bibir
dengan tatap mata elang
"Kau pasti sedang sakit!"
"Kau tidak waras!"
Ha...ha...ha...ha...
Menggema
Sesak khatulistiwa

Tercekat lidahku
kelu
Memuncak kesalku
sampai ubun-ubun
Aku marah
sehangus abu sesakit mati

Baru saja bermula langkahku
di atas garis lurus tak berliku
jalan rambut dibelah tujuh
Aku terkejut bukan main
Sekonyong-konyong
teriakan keras melengking,
"Kau tak pantas di surga!"
Ha...ha...ha...ha...
Membahana
Takluk angkasa

Godam sebesar Uhud
hantam kepalaku
Memburai semua isinya
Aku sedih
seluas langit sedalam bumi

Sedemikian terjalkah jalan yang harus kutempuh
untuk sampai di gerbang taubat?

Hai bumi jin dan manusia
Tanah hitam pekat malam
Kilau belati sengat matahari
Gemuruh ombak deru badai
Jerit petir pekik sangkakala
Lihatlah apa yang dikatakan manusia padaku!

Hai kobar api luap lahar
Getar lindu letus Merapi
Geram topan amuk tsunami
Panas gurun gersang kemarau
Tertawakanlah aku!
Sepuasmu!
Sampai habis nafasmu!
Sampai kering air matamu!

Tidak!
Aku tidak akan berhenti
Sudah kumulai
akan kulanjutkan
hingga tetes darah terakhir
Karena aku tahu
jernih air butir embun
hijau daun gemerlap kejora
indah pagi rona senja
biru laut putih awan
desah angin kicau burung
semerbak bunga mekar kuntum
Selalu ada
hadir
hadiahkan senyum semerah mawar
setiap saat
padaku
hanya untukku

Kapal pecah, 11 November 2009, 00:56 
Pada sebuah malam yang menangis

Share:

3 komentar:

  1. saya dapat merasakan kekuatan di setiap bait puisi ini^^

    jgn lelah berkarya ya^^

    *dpt slm balik dari 2 bocah nakalku hahahha*

    BalasHapus
  2. wohwohwohowhow.... nt kenapa say? blum makan ta? wkwk

    BalasHapus
  3. ... dan puing-puing kapal itu mengapung, di kegelapan. Dingin arus arktik perlahan bekukan aliran darah. Lalu Jack Dawson ucapkan salam terakhirnya pada Rose [halah jadi Titanic]

    sori yid, otakku jadi eror gara-gara malnutrisi, hwehwhw

    BalasHapus