Minggu, Januari 03, 2010

Milis Idaman Lain (MIL)

Pada bilangan 1990-an di sebuah tempat di Bandung, dua unit komputer Pentium II hasil sumbangan alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) ikut menjadi saksi sejarah awal masuknya internet di bumi Indonesia. Dua komputer jadul tersebut, dengan processor-nya yang mungkin sekarang sudah menjadi barang langka selangka barizah di sini, dulu adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang membidani lahirnya embrio komunitas dunia maya pertama di Indonesia. Kemudian dalam waktu singkat embrio tersebut berkembang menjadi lebih dari ratusan milis, tentunya hanya satu-dua yang sampai sekarang masih menyandang status The Survivor, sementara sebagian besarnya sudah tak bernafas lagi.

Konon, mahasiswa Indonesia yang pertama kali berkenalan dengan dunia milis ini adalah para mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikannya di Berkeley, California, Amerika Serikat pada rentang tahun 1987-1988. Mereka jugalah-konon-yang membentuk komunitas dunia maya mahasiswa Indonesia pertama. Selanjutnya arus perkembangan dunia permilisan di tanah air boleh dikatakan banyak dipacu oleh putra-putra bangsa lulusan luar negeri yang kembali ke Indonesia. Dengan demikian, sangat beralasan jika disimpulkan bahwa dunia milis memang lekat dengan dunia mahasiswa.

Di sini, beribu mil jauhnya dari Bandung dan Berkeley, bertahun-tahun jaraknya dari masa mereka dan dengan semangat yang sama sebagai mahasiswa, kita juga bermilis dan kita punya milis yang legendaris: milis Perpustakaan Mahasiswa Indonesia Kairo (PMIK). Entah bagaimana mulanya, Masisir lebih memilih untuk meramaikan milis ini daripada sejumlah milis yang ada di Mesir sehingga milis ini-sebelum ‘menghilang’ beberapa waktu lalu-sempat menjadi milis nomor wahid di arena permilisan Masisir. Latar belakang milis dengan bingkai kepustakaan yang bersih dari bau isu politik dan golongan sehingga menjanjikan netralitas posisi mungkin menjadi salah satu pemanis utama milis PMIK di samping faktor-faktor lainnya.

Sebagaimana milis mahasiswa pada umumnya, milis PMIK tak hanya sebagai wadah pertukaran informasi dan diskusi, tapi juga sudah menjelma menjadi tempat belajar dan pembelajaran. Kita tidak tahu namun tak bisa dipungkiri bahwa banyak rekan-rekan mahasiswa yang belajar bahkan ‘sekolah’ di milis PMIK. Belajar dalam arti yang lebih luas: belajar menulis, belajar mengutarakan pendapat dengan baik, belajar menerima pendapat orang lain, belajar toleransi, belajar agar teliti dan hati-hati, belajar berdialog, belajar mengkritik dan menerima kritik dengan baik serta belajar menyikapi perbedaan. Anggota milis yang berasal dari berbagai latar belakang sosial, lintas generasi, lintas disiplin ilmu, lintas status akademik dan lintas aliran membuat milis ini menjadi "kaya" dan "cantik". Milis PMIK yang lama jelas berjasa membantu proses pendewasaan diri anggotanya, atau dengan kalimat yang lebih berani rasanya sah-sah saja bila dikatakan bahwa milis PMIK yang lama telah mendewasakan banyak Masisir.

Sayang, milis PMIK yang dibanggakan itu sudah ‘"wafat", kenangan tak terlupakan. Sekarang, beberapa bulan setelah hari "kematiannya" tak akan ada manfaat yang didapat dari saling curiga, saling menuding, saling menyalahkan, saling berdebat tentang sebab "kematiannya", apakah ia "mati" wajar atau "dibunuh" atau malah korban "pembunuhan". Tudingan, tuduhan, saling menyalahkan dan saling curiga bukanlah mantra pemutar waktu, tidak akan berubah menjadi mukjizat dan sampai kapanpun tidak akan pernah bisa membangkitkan "almarhum" milis PMIK yang lama dari “kuburnya”. Syukur, hal-hal seperti itu tidak sempat berkembang dan mewacana di kalangan Masisir yang memang sudah dewasa.

Ah, sudah lama sekali rasanya kita tidak mendengar lagi pertanyaan “Di milis sekarang lagi rame apa?” atau “Topik yang kemarin ujungnya gimana?” dan yang senada. Pihak PMIK memang telah membuat alternatif pengganti milis PMIK yang lama. Namun, tanpa bermaksud menuding pihak manapun, harus diakui bahwa gaungnya hingga kini belum menggema. Bila melihat perangkat yang kita gunakan sekarang yang sudah jauh lebih maju dari komputer Pentium II milik ITB dulu, akses internet yang kita nikmati jauh lebih mudah dan murah dan jasa cuma-cuma yang ditawarkan penyedia layanan milis saat ini yang jelas lebih memadai dan waktu luang yang kita miliki, seharusnya kevakuman yang ada tidak berlangsung lama.

Agar menjadi, mengimbangi atau bahkan melebihi pendahulunya, proses menghidupkan dan "membesarkan" milis yang baru lahir ini setidaknya harus dilakukan dari dua arah, baik dari pihak pengelola milis sendiri maupun dari anggota. Di samping itu, ada baiknya bila ada yang berinisiatif memberikan sekaligus menarik trigger 'pelatuk' sebagai stimulus bagi aktivitas milis ini. Aktor penarik pelatuk boleh dari pengelola milis PMIK sendiri atau dari anggota atau malah dari keduanya. Yang jelas, sesekali kita memang perlu disentil agar terbangun, kaget lalu memulai.

Semoga rekan-rekan pengelola milis PMIK menyadari kondisi dunia permilisan Masisir yang kini sepi, sedang antusiasme mereka yang masih tinggi belum juga mendapat wadah dan kerinduan mereka akan aktivitas keilmuan di milis merupakan sebuah celah yang sangat potensial. Bila milis PMIK tidak jeli melihat dan tidak cepat bertindak, tidak menutup kemungkinan bila hati para "pelanggannya" akan beralih kepada MIL (Milis Idaman Lain).

Share:

0 comments:

Posting Komentar