Minggu, Maret 28, 2010

Pilihan*

Dr. Kathleen Hall, pendiri The Stress Institute dan seorang pakar stres terkemuka dunia, pernah berkata, "In every single thing you do, you are choosing a direction. Your life is a product of choices." Dalam melakukan setiap perbuatan, bahkan yang terkecil sekalipun, sebenarnya kita dihadapkan pada lebih dari satu pilihan. Bila setiap hal yang ingin kita lakukan diukur dengan barometer empat pertanyaan sederhana saja: "Bagaimana?", "Kapan?", "Untuk apa?" dan "Untuk siapa?", maka jawaban-jawaban yang muncul di benak kita sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa betapa sebenarnya kita selalu punya pilihan.

Dalam salah satu episode serial film dokumenternya yang terkenal, The Arrivals, Noreaga dan Achernahr menekankan bahwa salah satu karunia paling agung yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia adalah kebebasan untuk memilih. Bahkan, dalam hal yang paling fundamental sekalipun, memilih untuk menyembah-Nya atau tidak, Tuhan masih memberikan kebebasan seluas-luasnya. Padahal semua tahu bahwa dosa yang tidak akan Ia ampuni adalah "menduakan-Nya".

Setiap yang kita rasa, lihat dan miliki saat ini adalah konsekwensi dari pilihan-pilihan yang kita buat di masa lalu. Hari ini adalah hasil dari pilihan yang kita buat kemarin. Nilai yang kita miliki dalam komunitas, baik-buruknya, juga adalah produk dari pilihan yang kita buat. Semakin tinggi nilai seseorang dalam komunitas, semakin besar dampak yang diakibatkan pilihan yang ia buat.

Ingat cuplikan menarik dalam film "3 Idiots"? Farhan, mahasiswa bebal yang dipaksa melahap materi-materi engineering, dihadapkan pada dua pilihan sulit di sana. Pertama, saat itu waktu wawancara kerja sudah di depan mata, sedang ia sama sekali tidak menyukai engineering. Kedua, taksi sudah menunggunya di depan pintu untuk mengantarnya pulang dan memberitahu kedua orang tuanya bahwa tidak ingin menjadi insinyur, ia ingin menjadi fotografer. Saat itu, kedua pilihan yang dimiliki Farhan hanya dipisahkan oleh batas setebal kulit ari. Namun, bila ia mengambil pilihan yang salah, ia akan menyesali saat itu seumur hidupnya, padahal taksi sudah menunggu di depan pintu. Setiap orang sejatinya pernah menjadi Farhan. Kita pernah dihadapkan pada pilihan-pilihan kecil yang dampaknya bisa mengubah seluruh sisa masa hidup kita.

Bila diterjemahkan ke dalam konteks kekinian Masisir (Mahasiswa Indonesia di Mesir), maka "peristiwa" bersejarah kandidat ketua WIHDAH yang tunggal dan krisis wakil ketua organisasi tersebut juga adalah imbalan yang kita terima atas pilihan-pilihan yang dulu pernah kita buat. Bila ternyata ada benang merah antara penyebab hal tersebut dengan proses kaderisasi dan regenerasi atau apapun penyebabnya, itu adalah pilihan kita.

Apa yang dialami calon mahasiswa baru tahun ini adalah juga potret pilihan-pilihan yang diambil bukan oleh kita, tapi mereka yang berada di atas sana. Mereka, para pengatur birokrasi itu, sebenarnya punya banyak pilihan. Dan apa yang terjadi saat ini, adalah hasil dari pilihan tidak tepat yang diambil, entah karena keteledoran atau kesengajaan. Mengenai ikhtibâr qabûl, kita tidak perlu menuding sana-sini untuk mencari kambing hitam. Si fulan, yang kebetulan kepergok Syaikh al-Azhar lantas dinyatakan belum memenuhi standar kemampuan berbahasa Arab yang cukup dan ditengarai sebagai penyebat diadakannya ikhtibâr qabûl, hanya sedang apes. Penyebabnya tidak sesederhana itu, tapi jauh mengakar ke dalam, kepada pilihan yang dulu kita buat dan pilihan yang diambil oleh para praktisi pendidikan di tanah air.

Manusia, bila berada di atas, memang seringkali lupa bahwa "Ya" dan "Tidak"-nya berdampak besar pada kehidupan orang lain. Bila George W. Bush, pembohong terbesar abad ini, tidak mengambil pilihan yang salah dengan menyatakan "Ya" untuk perang, tentu Afghanistan dan Irak tidak akan porak-poranda seperti sekarang. Setiap konflik dan perang yang pernah menggelegar di muka bumi ini adalah akibat dari "Ya" dan "Tidak" yang diambil oleh para pemangku jabatan. Yang tidak bisa dimaafkan adalah bila mereka menyadari akibat fatal dari "Ya" dan "Tidak" yang mereka ambil, namun tetap memilih yang salah. Mungkin, hal inilah yang menyebabkan banyak orang enggan untuk menerima tawaran tanggungjawab, seperti kasus Pemiluwi WIHDAH.

Nasi sudah menjadi bubur, mari tuangkan kuah, bubuhi bawang goreng, irisan daging ayam dan kerupuk. Kita masih punya banyak pilihan dan kesempatan untuk menentukan terkait masalah WIHDAH dan Camaba. Kita bisa membenahi dan membuatnya lebih baik atau sebaliknya. Taksi sudah berada di depan pintu, silakan menentukan pilihan dan jangan salah pilih.

*Editorial buletin Informatika, ICMI Orsat Kairo, edisi 145- 24 Maret 2010



Share:

1 komentar:

  1. wwaah.....!!!! ustad sayyid ! ana kangen nich !! "kapantad" bisa ketemuan lagi?

    BalasHapus