Rabu, Oktober 13, 2010

Kita Juga Mahasiswa: Selayang Pandang tentang Masisir

Iftitah

Tidak jelas siapa yang pertama kali mencetuskan istilah “Masisir”, akronim dari Mahasiswa (dan pelajar ?) Indonesia di Mesir. Tak jelas pula kapan persisnya istilah ini lahir. Yang jelas, Masisir adalah komunitas multikultur: berasal dari berbagai daerah di Indonesia, beragam kebiasaan, beribu watak, dan berpuluh bahasa.

Saat ini, sesuai dengan data laporan pendidikan di situs Atase Pendidikan Nasional Kairo, jumlah mahasiswa Indonesia mencapai 3184 orang pada 13 Oktober 2010. Masisir bisa dikatakan mulai “membengkak” sejak tahun 2004 seiring dengan membludaknya jumlah putra-putri Indonesia yang datang ke Mesir untuk melanjutkan studi.

Meningkatnya jumlah Masisir – kalau boleh mengibaratkan – tak ubah seperti dua mata pisau. Di satu sisi, hal ini menunjukkan tingginya antusiasme putra-putri bangsa untuk mendalami ilmu agama sesuai dengan disiplin ilmu yang diminati. Namun di sisi lain, banyaknya jumlah Masisir – dengan sistem pendidikan al-Azhar seperti sekarang – berpotensi mempengaruhi iklim keilmuan dan integritas mereka.

Tulisan ini sengaja difokuskan kepada beberapa hal yang menurut saya penting untuk diketahui, terutama bagi mahasiswa baru, sebagai informasi awal tentang peta permasalahan Masisir.

Masisir di mata masyarakat Indonesia

Sejak dulu, Timur Tengah selalu memiliki tempat istimewa di hati masyarakat Indonesia, tak terkecuali jebolan universitasnya. “Alumni Timur Tengah” adalah label yang hingga sekarang memiliki nilai jual tinggi, terlebih bagi para lulusan al-Azhar, salah satu universitas Islam tertua dan kiblat khazanah keislaman. Bagi masyarakat awam, alumni Timur Tengah adalah pribadi-pribadi saleh, dengan penguasaan ilmu agama tingkat tinggi, hafal al-Qurán, hadis, mahir berbahasa Arab, luas wawasan keagamaan dan seabrek hal-hal positif lainnya.

Sejarah kehebatan dan kiprah alumni Timur Tengah dulu sepeti Syekh Nawawi al-Bantani, Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Syekh Muhammad Jamil Jambek, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, Syekh Muhammad Khalil al-Maduri, Syekh Abdul Hamid Asahan, Syekh Muhamad Mukhtar al-Bughri hingga Dr. Muhamamd Quraish Shihab, tampaknya turut berperan dalam menjaga nama baik Masisir hingga sekarang dengan mewariskan kharismanya.

Di samping itu, fenomena novel “Ayat-ayat Cinta” yang booming pada 2004, “Ketika Cinta Bertasbih” yang meraup sukses pada 2007 serta pengangkatan kedua novel tersebut ke layar sinema juga telah berhasil dengan sempurna menebarkan virus “demam Mesir” dan “demam Timur Tengah” di tengah masyarakat Indonesia terutama yang awam.

Masisir dalam realitas

Realitas selalu saja berbeda, bahkan bertolak belakang dengan cerita. Mungkin kita harus bersyukur (atau miris?) karena informasi dan cerita tentang Masisir yang sampai ke tanah air hanya yang baik-baik saja. Tidak banyak yang tahu apa dan bagaimana Masisir sebenarnya kecuali Masisir sendiri, para alumni Masisir, dan segelintir orang yang peduli.

Jauh sebelum “Ayat-ayat Cinta” booming, sebenarnya sudah banyak cendikiawan bangsa yang menyampaikan kritik mendasar kepada para alumni Timur Tengah, khususnya alumni al-Azhar. Kritik yang ada tentu bukan tanpa sebab, karena lulusan al-Azhar yang kembali dan mengabdi di Indonesia sudah tak bisa dihitung dengan jari, lintas generasi dan lintas usia. Interaksi masyarakat kita dengan para alumni Timur Tengah juga sudah cukup matang untuk dapat dijadikan dasar penilaian. Di samping itu, perubahan dan perkembangan sistem yang terjadi di al-Azhar dan Mesir yang notabene hasil ijtihad manusia, sesuai hukum alam, akan selalu rentan terhadap kritik.

Banyaknya mahasiswa Indonesia di beberapa negara tetangga Mesir, seperti Syria, Saudi Arabia, Yaman, Sudan, Jordania dan Libya – yang juga berkiprah di tanah air – menjadikan masyarakat kita lebih pandai dalam menilai karena disuguhi banyak pembanding. Seiring berjalannya waktu, intensitas interaksi yang terbangun dengan para sarjana dari berbagai negara Timur Tengah ini semakin menunjukkan perbedaan antara alumni Mesir (al-Azhar) dengan negara-negara lainnya. Pertukaran informasi yang terbuka juga membuat masyarakan semakin tahu “belang” Masisir yang selama ini tertutup rapi.

Berikut beberapa hal tentang Masisir yang sering dijadikan objek kritik oleh para pemerhati pendidikan kita dan beberapa masalah internal yang mendesak untuk ditanggulangi:


Miskin metodologi

Adalah Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi, Pemimpin redaksi majalah Islamia dan Direktur INSIST, yang – kalau tidak salah, dalam sebuah seminar INSIST di Kairo – menyematkan dan memopulerkan label “miskin metodologi” kepada alumni Timur Tengah, khususnya alumni al-Azhar. Meski beliau bukan orang pertama yang mencetuskan penilaian ini dan hanya mengutip pernyataan cendekiawan lain, setidaknya hal ini sudah sangat cukup untuk membuktikan bahwa ada yang salah dengan Masisir, dalam hal ini menyangkut metodologi.

Metodologi sendiri, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi I (2005), berarti ilmu tentang metode atau uraian tentang metode. Metodologi juga adalah derivasi dari kata Latin "methodus" dan "logia" atau "logy" (Merriam Webster on line).

Menurut Nidlol Masyhud, Lc, ketika mengkritik bahwa Masisir miskin metodologi, setidaknya ada tiga hal yang dimaksud oleh para pengkritik tersebut:

  • Kurangnya penguasaan atas sistematika (klasifikasi) ilmu dan riset dalam disiplin ilmu, khususnya yang sedang digeluti,
  • Penyampaian materi yang dikuasai kurang sistematis, baik verbal maupun nonverbal,
  • Minimnya penguasaan istilah-istilah asing-populer dalam studi-studi keislaman.

Bila mau jujur, akan didapati bahwa keseharian Masisir menguatkan validitas kritik ini. Selaku mahasiswa, seharusnya aktivitas kajian, diskusi, membaca dan menulis di tengah Masisir sudah membudaya, namun kenyataannya tidak demikian. Sistem pendidikan strata 1 di al-Azhar yang jarang mengenal kata “tugas”, “paper” dan “riset” melengkapi indikasi timpangnya tradisi keilmuan Masisir. Syukur, beberapa orang Masisir yang peduli baru-baru ini berinisiatif menggagas berdirinya Majelis Riset Masisir untuk segera mengakhiri “bencana-bencana” intelektual yang selama ini melanda, termasuk “bencana” miskin metodologi ini.


Tingkat produktivitas rendah

Budaya membaca dan keterampilan menulis adalah dua hal yang sangat niscaya harus dimiliki seorang Mahasiswa. Namun, banyak Masisir – untuk tidak mengatakan kebanyakan – yang frekuensi membaca-menulisnya masih jauh dari standar ideal. Membaca, terlebih lagi menulis, adalah dua hal yang oleh sebagian Masisir dianggap beban berat bahkan momok yang harus dihindari.

Masisir ibarat seseorang yang memiliki semua bahan masakan seperti sayuran, garam, minyak, wajan dan semua perangkat memasak lainnya, namun karena tak tahu bahan-bahan tersebut akan diapakan, akhirnya dibiarkan begitu saja tanpa menghasilkan apa-apa.

Perumpamaan ayam-manusia juga tampaknya cocok untuk menggambarkan produktivitas Masisir. Masisir ibarat ayam yang sedang berada di lumbung padi, namun tidak bisa “menyulap” gabah yang ada menjadi produk lain. Sementara insan akademis non-Masisir, yang sedang tidak berada di lumbung padi, diibaratkan seperti manusia yang bisa mengubah gabah menjadi beras, tepung kemudian menjadi aneka nasi dan bemacam-macam kue berbagai rasa.

Kemampuan berbahasa Arab yang "payah"

Dr. Hamid Abu Thalib, Ketua Syu’ûn al-Thullâb al-Wâfidîn (Kantor Urusan Mahasiswa Asing) al-Azhar, dalam satu kesempatan menyatakan secara terang-terangan di depan ratusan mahasiswa Indonesia, “Antum dhi’âf fil lughah!”. Hal ini diamini oleh banyak tokoh, dosen, masyarakat Mesir sendiri dan para pemerhati pendidikan di Indonesia.

Harus diakui bahwa kemampuan berbahasa Arab kita rata-rata memang “payah”. Perkuliahan yang pada satu dasawarsa terakhir sudah mulai didominasi oleh bahasa ‘âmmiyyah dan interaksi dengan bahasa Arab fushâ yang amat minim, baik verbal mapun tulis, semakin memperparah keadaan. Umumnya, kemampuan berbahasa Arab jebolan Syria, Saudi Arabia, Libya dan Sudan sedikit lebih baik dibanding lulusan al-Azhar, setidaknya demikian wacana yang mulai berkembang di Indonesia dewasa ini.

Fluensi dan keterampilan tajwid

Tanpa disadari, kita seringkali merasa bahwa kemampuan kita sudah cukup. Hal ini akan berubah bila kita mau objektif melakukan komparasi dengan orang lain, termasuk dalam hal ini penguasaan atas cara membaca al-Qurán, hafalan, dan penerapan tajwid.

Di al-Azhar sendiri, mahasiswa asing sudah lama dikenal sulit untuk menghafal al-Qurán. Jatah hafalan yang ditetapkan untuk wâfidûn terus berangsur turun dari masa ke masa. Awalnya, seperti tutur kakak-kakak kita, jatah hafalan wajib untuk mahasiswa asing disamakan dengan mahasiswa Arab dan Mesir. Setelah melalui beberapa masa, akhirnya diputuskan bahwa mereka hanya diwajibkan menghafal 1 juz per tahunnya. Jumlah ini tentu masih di bawah jumlah hafalan wajib para mahasiswa di universitas lainnya di beberapa negara tetangga Mesir.

Sayangnya, al-Azhar sendiri kurang memperhatikan aspek fluensi dan cara membaca yang benar, sehingga sebagian Masisir yang kurang menguasai dua hal ini tetap bisa melanjutkan studi tanpa hambatan apapun. Mereka, bila ingin, terpaksa harus berusaha sendiri menutupi kekurangan ini dengan mengambil kelas tambahan di pusat-pusat pembelajaran al-Qur’an yang mudah dijumpai di Mesir.

Pemakaian internet yang kontraproduktif dan tidak sehat

Akses internet di Mesir relatif lebih cepat, murah dan mudah bila dibandingkan dengan apa yang ada di Indonesia. Saat ini internet bisa dijumpai di setiap rumah Masisir yang ada. Tak ayal, hal ini membuat sebagian Masisir “mabuk kepayang” dan terlena. Hal ini memicu terjadinya perubahan yang mencolok dan disorientasi pada sebagian Masisir. Internet sudah menjadi kebutuhan primer, bukan lagi sekunder. Ia sering diutamakan, sementara aktivitas ilmiah yang seharusnya digeluti seperti kuliah, membaca, diskusi dan menulis dianak-tirikan.

Sah-sah saja menggunakan internet, selama tujuan, manfaat dan targetnya jelas serta terkontrol. Yang disayangkan, fenomena pemakaian internet di tengah Masisir sudah jauh dari standar sehat. Fenomena “melawan” hukum alam dengan memutarbalikkan fungsi siang dan malam sudah menjadi hal yang biasa, sehingga lahirlah istilah “kesatria malam, pecundang siang” untuk menyebut mereka yang “berjaga” hampir setiap malam untuk berselancar ria di dunia maya. Hal inilah yang disebut Udo Yamin, penulis buku Qur’anic Quotient dan Direktur Word Smart Center, sebagai “pembusukan karakter”.

Kuliah versus organisasi

Mahasiswa Indonesia di Mesir adalah komunitas mahasiswa dengan aktivitas organisasi lumayan tinggi – untuk tidak mengatakan paling tinggi – bila dibandingkan dengan komunitas mahasiswa Indonesia luar negeri lainnya. Organisasi menjamur, dan masing-masing memiliki kegiatan rutin seabrek sehingga hampir setiap hari ada saja acara yang digelar. Organisasi-organisasi tersebut tentunya bisa bergerak karena Masisir. Setiap tahun, organisasi-organisasi tersebut berlomba-lomba menarik mahasiswa baru untuk meneruskan estafet kepengurusan internalnya. Siklus ini terus berputar tiap tahunnya, tanpa henti.

Atas dasar itu, sangat wajar bila ada sementara orang yang mengambinghitamkan organisasi saat prestasi akademis Masisir merosot. Namun, bila dicermati lebih dalam, aktivitas organisasi tidak sepenuhnya bisa disalahkan dan pembenturan prestasi akademis dan aktivitas organisasi tidak selamanya bisa dibenarkan. Cecep Taufikurrohman, MA, salah seorang penggagas pengadopsian sistem Student Government System (SGS) ke dalam PPMI (Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia), dalam satu kesempatan menegaskan ketidak-setujuannya bila prestasi akademis dibenturkan dengan aktivitas organisasi. Menurutnya, semua harus tergantung pada kemampuan manajemen waktu setiap individu Masisir.

Bisnis

Biasanya, untuk memperoleh visa pelajar di luar Indonesia, negara tujuan akan mensyaratkan agar si pemohon visa harus memiliki tabungan dalam jumlah tertentu. Hal ini untuk memastikan bahwa si pemohon visa mampu secara finansial dan tidak menjadi beban masyarakat di negara tujuannya. Sayangnya, Mesir sendiri belum memperketat peraturan ini sehingga Masisir yang “modal nekat” bisa leluasa keluar-masuk Mesir. Kondisi ekonomi yang kurang memadai jelas akan mempengaruhi proses studi Masisir. Benar bahwa di beberapa negara, mahasiswa juga diperkenankan bekerja sampingan (part time) untuk mencari tambahan pemasukan. Perbedaan sistem dan budaya di beberapa Negara tersebut tentunya cukup untuk membuat kita urung untuk membandingkannya dengan Mesir. Dengan kata lain, kerja part time di beberapa Negara tersebut terkontrol dan diimbangi dengan tuntutan-tuntuan akademis yang selalu mengelilingi mahasiswa di sana, berbeda dengan apa yang ada di Mesir.

Intinya, tidak ada larangan menjadi wirausahawan selama hal tersebut tidak menyebabkan kita lupa akan tujuan awal. Yang disayangkan adalah bila kita harus mengorbankan kuliah dan segala aktivitas ilmiah lainnya demi bekerja.

Penutup

Solusi dari beberapa masalah di atas sebenarnya sudah dapat diketahui secara spontan tanpa perlu mengkhususkannya dalam pembahasan lain. Manajemen diri dan manajemen waktu adalah dua kunci global yang dapat digunakan untuk membuka “keran-keran” prestasi, kreativitas, tradisi keilmuan dan integritas Masisir yang selama ini tersumbat.

Adagium “al-wâjibâtu aktsaru min al-awqât” semoga cukup untuk menjadi pengingat bahwa kewajiban dan tuntutan bagi kita sebagai mahasiswa jauh lebih banyak dari waktu yang tersedia.

Syekh al-Azhar yang baru, Dr. Ahmad Muhammad al-Thayyeb, figur cerdas dan moderat, sudah memberikan sinyal-sinyal akan adanya perubahan di al-Azhar menuju perbaikan. Kita berharap semoga isyarat-isyarat itu segera menjadi kenyataan dan semoga turut berperan aktif memberikan solusi konkret-praktis bagi permasalahan-permasalahan Masisir.

Share:

2 komentar:

  1. Subahanallah, sunggug tulisan yang menggugah, diakui memang Masisir punya dinamika hidup yang unik, baik akademis maupun aktivitas. sehingga malah justru timbul sebuah paradoks si tengah kita, jelas sudah yang Ustadz jelaskan, tinggal bagaimana kita menata diri. Terima kasih postinganya.

    Kalau ada waktu mampir ke rumah di http://miftahunanote.blogspot.com/

    BalasHapus
  2. subhanallah... keren ��
    singkat padat jelas, cocok digunakkan sebagai pengingat.thanks

    BalasHapus