Rabu, Desember 01, 2010

Cahaya

Awal semburat, seiring titik pertama dalam basmalah.

Aku bintang kejora, benderang paling terang di Timur dunia. Dahiku dihiasi dua bulatan coklat meminjam sedikit hitam, seperti bekas luka, dua sungut lebah. Keduanya muncul segurat demi segurat setelah keningku beribu kali beradu dengan lantai sebuah bangunan berjuta sejuk, manusia menyebutnya rumah Tuhan. Gesekan-gesekan halus terus menerus menggerus, sisa-sisa sujud. Aku tak dikenal di bumi, entah apa, entah siapa dan bukan sesiapa. Polan antah-berantah. Tetapi namaku adalah mahkota di langit ketiga, pemilik sanjungan tak terlawan, dipuji dan dimuliakan. Makhluk-makhluk berkepak dua, tiga, empat hingga ratusan itu pun merasa malu bila tak menaungkan sayapnya padaku saat aku berjalan. Ah, sudahlah! Hanya khayalku saja.

Aku segumpal hitam, bongkah yang paling legam. Lahir dalam padat arakan awan pekat saat mentari letih. Tertulis bersama mendung yang menggulita dan gelegar halilintar memekakkan, namun tak kunjung menggelar hujan. Fatamorgana paling dusta. Aku melayang-layang di udara, mengawang di cakrawala, antara hampa dan ada, tak mampu mewujud paripurna. Aku bukan manusia. Terbuang dalam sehelai hening yang terkulai di tengah ingar-bingar kehidupan. Tak dianggap, tak pernah dihiraukan, senantiasa terbiarkan. Sebuah titik di tengah daun mati, terpasung di ujung binasa. Seonggok pasrah yang terkungkung dalam jeruji titah. Serupa pucuk ilalang, hanya bisa mengangguk tunduk, patuhi sabda angin. Tak leluasa, selamanya. Tak berdaya, seperti mati seperti tak bernyawa.

Saat subuh bernafas, satu tahun cahaya dari bahagia.

Lelaki itu setengah manusia, setengah malaikat. Aku menyebutnya Manulaikat. Kami berpapasan dan saling menyebut nama di persimpangan jalan menuju mata air, saat ranting-ranting menguning kering. Dari dua puluh pasang mata, hanya kedua bola hijaunya yang melihatku. Seutas kilau paling tajam yang menguliti, menghunjam paksa. Tak ada guna rahasia.

“Kau sudah terserang candu, setajam sembilu, penyakit manusia!” Kata-katanya seperti belati, menerjang tepat ke ulu hati. Ini baru kali kedua kami bertemu, bagaimana ia tahu?

“Kau ini…semua yang kau pikirkan tergambar jelas di wajahmu!” Sekali lagi aku tersihir. Apakah ia tahu segala?

Aih, aku lupa kalau ia setengah malaikat. Ia tahu aku hitam, hingga rongga terdalam.

“Kau terlalu masygul memuja Cahaya hingga tersayat, nganga lukamu kini menyaingi malam!”

“Mengapa harus aku, Manulaikat? Apakah takdir sudah kehabisan nama manusia? Bukankah takdir tahu bahwa aku tak akan memutih?” Keluh kesahku tumpah, mengalir dari ubun-ubun. Manulaikat diam, tanpa air muka.

“Bukankah gelap tak kan pernah menyatu dengan terang? Bila aku bertemu takdir, akan kuminta ia memasukkan unta ke dalam lubang jarum!” Aku sedih, marah, sehangus abu, sesakit mati. Harus kuluapkan, toh ia pasti sudah menunggu.

Manulaikat menghela nafas seberat gunung. Aku berharap ia mau merasa bersalah mewakili takdir untuk menghiburku, sedikit saja. Seperti biasa, aku salah.

“Tuhan pasti punya alasan. Kau tahu, bila Ia ingin makhluk-Nya mendekat, Ia akan kirimkan seribu cobaan. Mungkin Tuhan ingin agar kau mendekat, Pekat!”
Aku bingung, linglung. Bila Tuhan ingin aku mendekat, mengapa Ia membiarkan nama Cahaya merajai siang dan malamku? Atau mungkin aku saja yang terlalu kelam, mengalahkan gelap yang terlihat saat mata terpejam?
Saat siang kepayahan, daun-daun berguguran.

“Ada kabar baik untukmu, Pekat!” ucap Manulaikat sumringah.

“Katakan saja, aku sudah tak peduli. Sejak Tuhan menjadikan aku merasa sebagaimana manusia, aku sudah akrab dengan duka. Muntahkan! Aku sudah terbiasa diiris-iris!”

Sepotong senyum masih tersungging di bibir Manulaikat. Entah apa tujuan Tuhan mempertemukanku dengannya. Mungkin untuk menghibur, mungkin juga untuk menguras air mata.

“Ternyata hitam-mu bisa dikikis! Penjaga gerbang dua dunia yang memberitahuku. Kami berpapasan di kaki langit...” Manulaikat tak melanjutkan.

“Kau tentu tahu, rasa penasaran saat ini bagiku bagaikan cuka, memperparah perih luka.” Mukaku sedikit memerah, setengah marah. Mengapa ia tak menyelesaikan saja kalimatnya?

“Seperti takdir, kau juga ingin mempermainkan aku?” cecarku gusar, tak sabar.

“Hahaha…kau ini! Mulai bertingkah seperti manusia kecil!” Ia malah tertawa.
“Ada kemungkinan kau bisa menjadi separuh raga Cahaya, pujaanmu. Aku tahu bagaimana memutihkanmu.”

“Teruskan!” aku mendesak.

“Kau hanya perlu bersuci di tujuh samudra dengan tiga puluh macam air berbeda warna. Semuanya harus terlaksana dalam dua belas purnama.”

“Aku sanggup!” tegasku mantap. Meski bagiku semua itu tak ubah seperti berjalan sejauh mata memandang sambil memikul beban sepuluh kali berat badan, tetapi aku tahu aku bisa.

“Oh ya…satu lagi…” ucap Manulaikat menggantung, mengerat jantung. “…kau juga harus mencari setangkai mukjizat. Serahkan pada Cahaya, tabirnya akan terbuka. Ia akan memberikan separuh binarnya padamu.”

Mukjizat? Apalagi itu?

“Di mana aku bisa membeli makhluk bernama mukjizat ini?” tanyaku setengah putus asa.

Manulaikat menarik nafas dalam-dalam. “Entahlah. Aku juga tak tahu. Setahuku pohon mukjizat hanya tumbuh di zaman nabi-nabi, saat matahari belum dihiasi bintik hitam.” Suaranya berat, seberat langit yang serasa runtuh menimpaku.

Ia seperti sengaja membawaku terbang ke langit ketujuh, kemudian dengan teganya melemparkan aku ke bumi. Apa gunanya berujar sepanjang itu jika akhirnya membenturkan aku dengan kebuntuan? Untuk apa membakar nyaliku sejak awal bila akhirnya menjatuhkan?Seharusnya ia mematahkanku setengah abad yang lalu, saat candu masih seujung kuku. Sempurna sudah ia menjadi pelengkap derita.

“Tampaknya kali ini kau harus berusaha sendiri, Pekat!” Ia mendesah, seperti merasa setengah bersalah.

Aku bisu, lidahku kelu. Tanah seolah membuka, tersibak runtuh ke bawah, siap menenggelamkan jasadku yang tinggal menunggu waktu. Aih, Manulaikat ingin aku menjadi manusia yang dua per tiga mati berusaha menjilat siku sendiri. Apakah semesta tak rela melihatku bersahabat dengan tawa walau sekedip mata saja? Ataukah Tuhan yang ingin aku sepanjang masa menggelar sejuta rajutan isak-isak menyesakkan?

Saat tujuh ribu bintang, sempurna bentuk bulan.

Kau Cahaya, jalanmu tak berliku menuju surga. Aku Pekat, lebih dahsyat dari nenek moyang hitam yang pertama kali tercipta.

“Gelap adalah separuh keindahan malam, separuhnya lagi adalah cahaya. Keduanya bersatu melukis malam yang adiwarna,” ucapmu suatu ketika, menyulut sedikit harap.

Sayang, kata-katamu itu bukan tertuju padaku. Kunang-kunang yang mendengar, menceritakannya kembali.

Tampaknya tak apa bila sekali ini aku menjadi pucuk rerumputan, lentur ikuti titah alam. Meski lembut melambai-lambai, tetapi setidaknya punya jalinan akar mungil mencengkeram.

Masa lalu sudah kenyang menceramahiku, tak guna melawan arus air. Aku diajari mantra ketiadaan, kepasrahan hingga ujung rambut. Selaksa sejuk menyusup sampai ke tulang sumsum begitu aku merapalnya. Sungguh sakti, seolah mampu menghidupkan kembali.

Sudahlah, Cahaya. Aku akhiri saja kisah ini, bahkan sebelum ia bermula. Biarkan ia menua bersama barisan buku-buku kusam berdebu di sudut kamar, karena dengan begitu ia akan tetap indah.

Saat kicau pertama menyambut fajar. Meski legam, aku terus berjalan. Aku ingin menuju Barat dunia, mengais-ngais belas kasih Tuhan, mengiba-iba, mengulang-ulang pinta di ujung tahiyat-tahiyat sunyi, di akhir rakaat-rakaat ganjil.

Kairo, 30 November 2010, 09:00 pagi.
*Cerpen pertamaku, seumur hidup.
Share:

0 comments:

Posting Komentar