Kamis, April 07, 2011

Borokrasi

Saat pertama kali ada – entah dicetuskan oleh siapa, tujuan dan fungsi utama birokrasi adalah untuk menyukseskan aktivitas sebuah organisasi, baik organisasi kecil sekelas LSM atau yang berskala besar seperti pemerintahan. Birokrasi adalah sistem kerja yang bertanggung jawab memastikan bahwa sebuah organisasi dapat melaksanakan misi dan meraih tujuan utamanya dengan tingkat efisiensi sebesar mungkin tetapi dengan pengerahan sumber daya serta tenaga yang sekecil mungkin. Ringkasnya, birokrasi adalah cara meraih sukses sebesar-besarnya dengan modal sedikit atau bahkan kalau bisa tanpa modal.

Birokrasi dalam perjalanan sejarahnya kemudian mengalami “evolusi”. Tak tanggung-tanggung, “evolusi” yang hanya dalam hitungan tahun ini memutarbalikkan makna, tujuan serta cara pandang manusia dalam memaknai birokrasi. Dahulu, dahulu sekali, birokrasi berarti “Kalau bisa dipermudah, mengapa dipersulit?” atau “Kalau bisa cepat, mengapa harus lama?”. Saat ini, birokrasi berarti “Kalau bisa dipersulit, mengapa harus dipermudah?” atau “Kalau bisa ditunda-tunda, mengapa harus dipercepat?”.


Saat ini, memahami birokrasi jauh lebih sulit dari sekadar mengeja kata asli birokrasi dalam bahsa Inggris: bureaucracy. Tingkat kesulitannya mungkin bahkan seperti memahami mengapa SBY mengiyakan keputusan PBB untuk memberikan sanksi pada Iran terkait nuklirnya, sesuai dengan keterangan International Atomic Energy Agency (IAEA) yang memberatkan Iran.

Pada tahun 1993, delapan belas tahun yang lalu, David Osborne mengatakan – seperti dikutip Wikipedia, “It is hard to imagine today, but a hundred years ago bureaucracy meant something positive”  (Sulit untuk membayangkannya hari ini, tetapi seratus tahun yang lalu, birokrasi berarti sesuatu yang positif). Pernyataannya ini ia tuangkan dalam bukunya Reinventing Government, sebuah buku best seller versi New York Times. David Osborne sendiri adalah penasihat senior Wakil Presiden Al Gore, wakil Bill Clinton. Saat bekerja di bawah Al Gore, Osborne ditugaskan di Reinventing Government Task Force atau Satuan Tugas (satgas) Penemu Kembali Pemerintahan.

Osborne menulis lima buku best seller yang mengungkap cara-cara menyederhanakan birokrasi yang rumit dan membuat pemerintahan lebih fleksibel serta kreatif. Dengan kata lain, – bila ungkapan ini benar – Osborne merupakan salah satu orang yang ingin mengembalikan birokrasi kepada makna dan prinsip awalnya.

Masalahnya, dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak berurusan dengan orang-orang yang berjalan pikiran sama dengan Al Gore atau Osborne yang selalu ingin agar birokrasi dikembalikan pada pengertian awalnya, simpel tetapi mudah dan memudahkan.  Kita hidup dan mau tidak mau harus berurusan dengan orang-orang yang – mungkin kalau bisa – ingin mempersulit segalanya. Di sinilah birokrasi benar-benar berevolusi menjadi borokrasi: mudah menjadi payah, gampang menjadi rumit, dan cepat menjadi lambat akhirnya senang menjadi berang. 

Borokrasi  ini ikut menjadi pupuk bagi praktik korupsi, suap dan berbagai jenis penggelapan lainnya. Tak usahlah disebutkan contohnya, silakan Anda elaborasi sendiri. Yang tak kalah berbahaya adalah bahwa borokrasi dengan segala kerumitannya sangat sakti dalam mengaburkan masalah, mengelabukan yang salah dan mengelabui yang kalah. Tak usah jauh-jauh, lihat saja lokakarya, peningkatan kualitas mahasiswa dan yang paling dekat: proses pengembalian WNI ke Mesir.

Tindak lanjut lokakarya, seperti penuturan Dubes AM. Fachir, pada level tertentu terpaksa tercekal borokrasi. Sebab, salah satu “kelebihan” borokrasi adalah memungkinkan suatu urusan untuk dipegang kendalinya oleh beberapa orang sekaligus, yang menurut logika jumlahnya sering kali lebih dari yang seharusnya dibutuhkan. 

Proses pemulangan WNI yang lamban juga tak lepas dari campur tangan si borokrasi ini. Namun hendaknya diingat, seperti diulas di atas, bahwa borokrasi sangat sakti dalam mengaburkan masalah, tak terkecuali proses pengembalian WNI ini. Sangat disayangkan bila pandangan kita sampai kabur karena terjebak “asap” borokrasi sehingga kita asal tuding, menimpakan kesalahan sembarangan. Dalam hal-hal yang sudah terjangkiti borokrasi, kecermatan tingkat tinggi dan analisis yang tajam mutlak diperlukan, sehingga kita bisa melihat secara jernih serta mengkritik secara proporsional dan tepat sasaran. 

Pada bulan Maret lalu, seorang Masisir, sebut saja Emje, yang pulang dengan biaya sendiri dan demi kepentingan pribadi, dengan suka rela ikut membantu proses pemulangan kembali WNI ke Mesir. Dengan kerelaan penuh dan membatalkan hampir seluruh agenda pribadinya, ia bersama beberapa relawan lainnya berjibaku, sampai lupa waktu. Namun, si borokrasi memang tampaknya sangat pintar mencari korban. Emje “terjebak” borokrasi, hampir tak bisa lepas. Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba saja ia diserahi tugas yang sebenarnya bukan tanggung jawabnya. 

Ia bahkan sampai menulis status di akun Facebook-nya keluhan yang kurang lebih, “Wahai Bapak SBY yang terhormat, tolong bantu saya menjelaskan kepada rakyatmu tentang janjimu memulangkan mereka kembali ke Mesir!”. Hari-hari berikutnya, status-statusnya tak lepas dari keluhan, tekanan, dan kepalanya yang hampir “pecah”. Nah, bila kita cermat, tentu dengan penuh rasa haru kita akan berteri kasih pada Emje dan rekan-rekannya, relawan tanpa pamrih. Namun, sangat disayangkan, ternyata masih ada saja yang bisa dikelabui oleh borokrasi, sehingga mengkritik para pahlawan tanpa tanda jasa itu. 

Dampak buruk borokrasi sudah meluas, melebar dan mengakar. Kita butuh salep manjur untuk mengobati “borok”-rasi ini. Apakah Anda tahu toko terdekat yang menjual salep 88 di sini?

Share:

0 comments:

Posting Komentar