Selasa, Agustus 13, 2013

Menelaah Terbitan Kitab Al-Umm Karya Imam Syafi’i

A. Pengarang kitab Al-Umm

Manuskrip yang dibahas bernama “Al-Umm” karya Imam Syafi’i (767 – 820 M/150 – 204 H). Keabsahan bahwa Al-Umm adalah karya Imam Syafi’i memang sempat menjadi polemik.  Di tahun 1934, Dr. Zaki Mubarak menulis sebuah buku berjudul “Ishlâh Asyna`i Khatha`in fî Târîkh at-Tasyrî` al-Islâmî: Kitâb Al-Umm Lam Yu`allifhu Asy-Syâfi’i, wa Innamâ Allafahu Al-Buwaithî wa Tasharrafa fîhi Ar-Rabî’ Ibn Sulaimân”. 

Buku yang diterbitkan oleh Penerbit Hijazi tersebut, seperti dipahami dari judulnya, berusaha membuktikan bahwa Al-Umm tidak dikarang oleh Imam Syafi’i, melainkan ditulis oleh muridnya, yakni Al-Buwaithi (w 231 H/836 M) kemudian diedit oleh Ar-Rabî’ Ibn Sulaimân (174 – 270 H/790 – 884 M) yang juga merupakan murid Imam Syafi’i.

Klaim ini kontan saja mendapat respon keras dari para ulama. Syekh Ahmad Syakir (1309 – 1377 H/1892 – 1958 M) menyinggung dan menjelaskan kekeliruan klaim Dr. Zaki Mubarak ini dalam mukadimah buku Ar-Risâlah karya Imam Syafi’i yang ia konkretisasi (Asy-Syafi’i : 9).

Penolakan terhadap klaim tersebut juga datang dari Dr. Abu Zuhroh (1898 – 1974 M), dalam bukunya Asy-Syâfi’i (Abu Zuhroh : 144) menjelaskan bahwa klaim tersebut berakar dari Imam Ghazali dalam Ihya Ulumiddin-nya yang mengutip perkataan Abu Ath-Thayyib Al-Makky (w 386 H) dalam bukunya Qût Al-Qulûb  di mana Abu Ath-Thayyib mengatakan bahwa Al-Buwaithi-lah yang mengarang Al-Umm. Dr. Abu Zuhroh juga menambahkan bahwa bila diteliti, gaya bahasa dan gaya penulisan Al-Umm sama persis dengan gaya bahasa dan penulisan Imam Syafi’i dalam karya-karyanya yang lain (Abu Zuhroh : 149).

Dalam Al-Umm terbitan Dâr Al-Hadîts, Cairo, Prof. Dr. Ibrahim Al-Hafnawi, juga menyebutkan polemik tersebut sekaligus menguatkan bantahan Dr. Abu Zuhroh terhadap klaim bahwa Al-Umm adalah karya Al-Buwaithi. Ia juga menyebutkan bantahan yang ditulis oleh ketua Komite Fatwa Al-Azhar, Syekh Husain Wali, di majalah Al-Azhar. (As-Syâfi’i 2008 : 1 : 75)

Bila dirujuk lebih jauh, keabsahan Al-Umm sebagai karya Imam Syafi’i ternyata dikuatkan oleh Ibn Nadim dalam Al-Fahrasat (Ibn Nadim 1978 : 264), Haji Khalifah dalam Kasyfu    Az-Zhunûn (Khalifah: 1429), Fuat Sezgin dalam Tarîkh At-Turâts Al-‘Arabi (Sezgin 1991: 3 : 184), Carl Brockelman dalam Tarîkh Al-Adab Al-‘Arabi (Brockelman: 1959 : 3 : 296) dan Az-Zirikli dalam Al-A’lâm (Az-Zirikli  2002: 6 : 26).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kitab Al-Umm adalah benar-benar karya Imam Syafi’i.

B. Topik bahasan Al-Umm

Seperti dinyatakan Dr. Rif’at Fauzi dalam mukadimah tahqiqnya terhadap Al-Umm, hal-hal yang dibahas oleh kitab tersebut dapat dibagi ke dalam kategori-kategori berikut:

Furû’ fiqhiyyah, yakni masalah-masalah furuk dalam fikih dan bukan hukum pokok. Mayoritas pembahasan buku berputar pada pembahasan ini.

Ushul Fiqh, sebagaimana jamak diketahui bahwa buku Al-Umm juga memuat pembahasan-pembahasan Ushul Fiqh, ditambah lagi bahwa Dr. Rif’at dalam mukadimahnya menyatakan bahwa buku Ar-Risâlah yang selama ini disebut-sebut sebagai buku terpisah, ternyata adalah bagian dari Al-Umm dan merupakan mukadimah bagi masterpiece Imam Syafi’i tersebut.

 Fikih komparatif (Al-Fiqh Al-Muqâran), karena di dalam Al-Umm terdapat juga catatan mengenai perbedaan pendapat antara Imam Malik dan Imam Syafi’i, Imam Abu Hanifah dan Imam Abu Layla dan lain sebagainya.

Ayat-ayat hukum dan penafsirannya menurut Imam Syafi’i, di mana saat mengemukakan pendapatnya mengenai suatu hukum, Imam Syafi’i selalu mengutip dalil dari Alquran dan menjelaskan tafsirnya.

Hadis-hadis hukum beserta sanadnya.

C. Manuskrip Al-Umm

Brockelman mencatat bahwa setidaknya manuskrip Al-Umm terdapat tempat-tempat berikut:
1. perpustakaan Saray (bahasa Turki berarti istana) Sultan Ahmad III di Istanbul dengan nomor 693 dan 11
2. perpustakaan Az-Zahiriyah, Syiria
3. perpustakaan Jar-Allah Afandi, Turki, nomor 591, 592 dan 594
4. perpustakaan Berlin Timur, nomor 1339
5.perpustakan Rampur Raza, India, I:356 nomor 659 (Brockelman : 1959 : 3 : 296)

Sementara Fuat Sezgin menambahkan bahwa manuskrip Al-Umm juga ditemukan di     tempat-tempat berikut:
  • perpustakaan Al-Hamidiya, Maashha, Lebanon, nomor 547
  • perpustakaan Laleli, Istanbul, nomor 820
  • perpustakaan Sir Alfred Chester Beatty, Dublin, nomor 3230, 3434, 4751, 5373 dan 5804  (Sezgin 1991 : 3 : 184-185)
Dr. Rif’at Fauzi, dalam mukadimah tahqîq-nya menambahkan pula bahwa selain di perpustakaan-perpustakaan tersebut di atas,  manuskrip Al-Umm juga ditemukan di:

  • perpustakaan Al-Mahmudiyyah, Madinah, Saudi Arabia
  • perpustakaan Al-Haram Al-Makki (perpustakaan Masjidil Haram)

D. Contoh hasil Tahqîq akademis

Cetakan yang dijadikan contoh hasil tahqîq akademis dalam tulisan ini adalah Al-Umm cetakan penerbit Dâr Al-Wafâ’, Mansoura, tahun 2001, 11 jilid dan 6464 halaman. Muhaqqiq edisi ini  adalah Dr. Rif’at Fauzi Abdul Muthalib dan diterbitkan di Mansoura, Mesir.

Manuskrip-manuskrip yang digunakan muhaqqiq dalam proses konkretisasi Al-Umm edisi ini berjumlah 6 buah:
  • manuskrip perpustakaan Saray Sultan Ahmad III Istanbul  
  • manuskrip perpustakaan Al-Mahmudiya, Madinah, Saudi Arabia
  • manuskrip perpustakaan Sir Alfred Chester Beatty pertama dengan nomor 3435 dan 3434
  • manuskrip perpustakaan Sir Alfred Chester Beatty kedua yang memuat volume ke-3 dari Al-Umm
  • manuskrip perpustakaan Al-Zahiriya, Damascus, Syria
  • manuskrip perpustakaan Masjidil Haram, Saudi Arabia

Hasil konkretisasi Dr. Rif’at ini patut dinyatakan sebagai hasil konkretisasi akademis-ilmiah karena beberapa sebab, di antaranya:

1. Pen-tahqîq menyebutkan manuskrip-manuskrip mana saja yang ia gunakan dan jumlah manuskrip lebih dari dua. Hal ini memperbesar kemungkinan validisasi teks sesuai keinginan penulis

2. Pen-tahqîq juga tak lupa membandingkan hasil konkretisasinya dengan naskah Al-Umm cetakan penerbit Al-Amiriyyah (Bûlâq), penerbit yang pertama kali menerbitkan Al-Umm tahun 1904 M/1301 H di Mesir. Ia juga menyinggung beberapa kesalahan dalam cetakan ini.

3. Selain cetakan Bûlâq, ia juga menyebutkan satu cetakan lain yang namanya tidak ia sebutkan. Ia hanya membandingkan hasil konkretisasinya dengan cetakan tersebut dan menunjukkan kesalahan-kesalahan cetakan yang menurutnya belum layak disebut hasil konkretisasi tersebut

4. Pen-tahqîq memiliki sanad fikih mazhab Syafi’i yang ia sebutkan di mukadimah. Ini berarti ia setidaknya mengerti istilah-istilah teknis, kebiasaan dan hal-hal yang menjadi ciri khas mazhab Syafi’i terutama dalam buku-buku mereka

5. Sebelum mulai menyajikan naskah Al-Umm yang dikonkretisasi, pen­­-tahqîq terlebih dahulu memberikan bahasan pembuka (madkhal) berupa biografi pengarang Al-Umm dan semua yang perlu diketahui tentangnya yang ada kaitannya dengan Al-Umm. Madkhal  ini juga mencakup kajian (dirâsah) terhadap kitab Al-Umm sendiri (Harun 2008 : 83)

6. Pen-tahqîq tetap jujur dalam membandingkan antara naskah yang ia punya, hal ini terlihat dari catatan kaki yang ia buat setiap kali menemukan perbedaan antara manuskrip yang ada padanya, atau perbedaan dengan cetakan Bûlâq, juga perbedaan dengan hasil konkretisasi Ahmad Syakir terhadap kitab Ar-Risâlah, disertai keterangan entri mana yang ia unggulkan.

7. Pen-tahqîq memiliki latar belakang pendidikan ilmu hadis dan memang dikenal sebagai praktisi ilmu hadis. Maka tak heran, jika dalam mukadimah penelitianya, ia menyebutkan kekeliruan-kekeliruan beberapa cetakan terdahulu dalam masalah konkretisasi teks hadis yang ada dalam Al-Umm. Jadi, ia tak hanya menukil hasil takhrîj dari buku-buku hadis, namun benar-benar meneliti kata per kata dalam setiap hadis yang ada di Al-Umm.

8. Pen-tahqîq menjelaskan bahwa yang pertama kali menyusun Al-Umm sehingga menjadi lebih rapi seperti sekarang adalah Sirâjuddîn Al-Bulqînî (w 805 H) di mana sebelumnya tema-tema pembahasan Al-Umm masih sering ditemukan bercampur antara satu bab dengan yang lainnya. Ia juga menjelaskan bahwa ada beberapa lembar manuskrip yang tidak tercantum dalam Al-Umm yang disusun kembali oleh Al-Bulqînî sehingga semua cetakan yang mengacu pada naskah Al-Bulqînî ia nyatakan belum lengkap. Meski akhirnya ia juga mengacu pada hasil kerja Al-Bulqînî dengan menambal kekurangan-kekurangannya. Ini menunjukkan bahwa pen-tahqîq  benar-benar mendalami manuskrip yang akan ia konkretisasi dan ini tentu menambah nilai ilmiah penelitiannya.

E. Contoh hasil tahqîq non-akademis

Cetakan Al-Umm yang dijadikan contoh sebagai hasil konkretisasi non-akademis (tijârî; komersil) adalah cetakan Maktabah Al-Kulliyyât Al-Azhariyyah yang diterbitkan tahun 1961 M yang di-tahqîq oleh Muhammad Zuhri An-Najjar. Al-Umm edisi ini terdiri dari 4 jilid dan tiap jilid terdiri dari 2 volume (juz), masing-masing volume terdiri dari lebih-kurang 250 halaman.

Pen-tahqîq hanya menyebutkan sekelumit tentang biografi Imam Syafi’i dan tidak sekomprehensif yang ada pada cetakan Dâr Al-Wafâ’. Dalam cetakan ini juga tidak ditemukan catatan kaki, karena bagian bawah tiap lembaran Al-Umm edisi ini sudah dipenuhi oleh komentar-komentar Al-Bulqînî. Cetakan ini disinyalir juga adalah salinan dari naskah Bûlâq yang – sebagaimana dijelaskan di atas – juga masih mengandung banyak kekeliruan.

Meski demikian, tidak selamanya hasil tahqîq tijârî (komersil) tidak layak untuk dibaca atau dibeli karena dipenuhi kesalahan. Kesalahan cetak, tahqîq dan kesalahan lain akan selalu ada. Hanya saja, hasil konkretisasi akademis ilmiah tentu lebih mendekati kesempurnaan dan lebih valid dibanding dengan hasil konkretisasi komersil. Wallâhu a’lam.


Daftar Pustaka

An-Nadim, Ibn, Al-Fahrasat, Beirut: Dâr Al-Mathbû’ât Al-Jâmi’iyyah, 1978

As-Syâfi’i, Muhammad Ibn Idris, Ar-Risâlah, tahqîq Ahmad Syakir, Beirut: Dârul Kutub    Al-‘Ilmiyyah, tanpa tahun

__________________________, Al-Umm, tahqîq Dr. Rif’at Fauzi Abul Muthalib,          Cairo: Dâr Al-Wafâ`, 2001

__________________________, _______, tahqîq Dr. Muhammad Ibrahim Al-Hafnawi, Cairo: Dâr Al-Hadîts, 2008

Az-Zirikli, Khairuddîn, Al-A’lâm, Beirut: Dâr Al-Ilm lil Malâyîn, 2002

Brockelman, Carl, Tarîkh Al-Adab Al-‘Arabi, Cairo: Dâr Al-Ma’ârif, tanpa tahun

Harun, Abdussalam, Tahqîq An-Nushush wa Nasyruhâ, Cairo: Maktabah As-Sunnah, 2008

Khalifah, Haji, Kasyfu-z-Zhunûn ‘an Asâmi Al-Kutub wal Funûn, Beirut:  1941

Sezgin, Fuat, Tarîkh At-Turâts Al-‘Arabi, Riyadh: Kementrian Pendidikan Tinggi Saudi Arabia, 1991

Zuhroh, Muhammad Abu, As-Syâfi’i: Hayâtuhu wa ‘Ashruhu, Ârâ`uhu wa Fiqhuhu, Cairo: Darul Fikr Al-Arabi, tanpa tahun

Share:

0 comments:

Posting Komentar