Sabtu, Januari 09, 2016

Sejarah Perkembangan Filologi di Mesir




Pendahuluan

     Mesir atau Republik Arab Mesir adalah salah satu negarayang diperhitungkan dalam perkembangan ilmu pengetahuan, terutama ilmu-ilmu keislaman. Hingga saat ini, Mesir masih menyimpan kekayaan khazanah keislaman, baik klasik maupun modern, yang mudah didapati di perpustakaan-perpustakaan.

    Sebagaimana jamak diketahui, Mesir sudah memiliki peradaban maju sejak puluhan abad sebelum Masehi. Sisa-sisa peninggalan peradaban Mesir kuno seperti piramida Giza, kuil Abu Simbel dan Spinx masih berdiri megah. Artefak peninggalan dinasti-dinasti kerajaan Mesir kuno juga masih tersimpan rapi di beberapa museum yang mudah diakses.

     Mesir menjadi penting untuk menjadi objek penelitian karena merupakan salah satu kebudayaan tertua yang sudah mengenal tulisan. Di samping itu, menurut Al-Hajiri (1977 : 29) Mesir merupakan pionir negara-negara Timur Tengah (Arab) dalam dunia filologi di era modern. Hal ini dapat dilihat dari perhatian dan kegiatan filologi yang dilakukan oleh para peneliti Mesir yang telah mendahului para peneliti dari negara-negara Arab lainnya.

     Dalam makalah ini, penulis akan berupaya memberi deskripsi singkat tentang sejarah dan perkembangan filologi di Timur Tengah pada umumnya, dan di Mesir secara khusus, sesuai dengan sudut pandang para filolog muslim dalam karya-karya mereka.

Cikal bakal filologi di Mesir

     Berbicara tentang filologi di Mesir tidak bisa dilepaskan dari sejarah filologi di negara-negara Arab, terutama Saudi Arabia. Kesatuan bahasa, budaya dan agama turut mempengaruhi dalam sejarah muncul dan berkembangnya filologi di negara-negara Arab. Meski terletak di benua Afrika, namun kedekatannya secara geografis dengan Semenanjung Arabia  membuat Mesir turut memainkan peran penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan.

     Sejarah lahirnya filologi atau yang dikenal di Mesir dan Timur Tengah dengan sebutan tahqîq al-makhthûthâth, bila dirunut, sebenarnya akan membawa kita kepada awal-awal masa kenabian Muhammad Saw. Seperti direkam oleh Ibn As-Shalah (w 1245 M) bahwa semasa hidup Muhammad Saw, sempat terjadi polemik antara para sahabat Nabi Saw karena Nabi Saw sempat melarang para sahabat untuk menulis perkataannya (hadis). Meski akhirnya, menurut Ibn As-Shalah (1998 : 48) penulisan hadis adalah hal yang tak terelakkan demi menjamin validitas dan keakuratan transmisi. Sementara Al-Baghdadi (2008 : 101) justru meriwayatkan beberapa hadis yang menegaskan bahwa banyak sahabat Nabi Saw yang menulis dan bahkan memiliki kumpulan hadis Nabi Saw. Di antara para sahabat tersebut antara lain Abu Bakar, Umar Ibn Al-Khattab, Abdullah Ibn Mas’ud dan Abdullah Ibn ‘Amru.

     Setelah wafatnya Rasulullah Saw, proses pencatatan hadis ini dilanjutkan oleh para sahabat dan tabi’in. Menurut Al-Baghdadi (2008 : 126-142) penulisan hadis terus dilakukan oleh tabi’in generasi pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Proses ini berjalan secara berkesinambungan hingga memasuki abad kedua saat kaidah-kaidah ilmu hadis memasuki era kemapanan (Diyab, 1993 : 20). Di abad kedua dan ketiga lahirlah tokoh-tokoh pendiri mazhab fikih seperti Abu Hanifah, Malik Ibn Anas, Al-Laits Ibn Sa’d, Asy-Syafi’i, Al-Auza’i, Ahmad Ibn Hanbal dan para pakar hadis seperti Az-Zuhri, Al-Bukhari dan Muslim. Tokoh-tokoh penting ini turut memberikan kontribusi yang cukup signifikan dalam perkembangan ilmu hadis.

     Penulisan dan pengumpulan hadis secara resmi memang baru diperintahkan oleh Umar Ibn Abdul Aziz (w 101 H) saat ia menjadi khalifah. Namun perintah ini tidak bisa dijadikan titik permulaan penulisan hadis, sebab perintah tersebut bersifat institusional, sedangkan upaya-upaya kodifikasi hadis yang dilakukan individu-individu sudah berjalan sebelumnya.

     Penulisan dan periwayatan hadis inilah di kemudian hari yang menjadi cikal-bakal bangunan teoretis dan metodologis ilmu filologi (tahqîq al-makhthûthâth) di kalangan sarjana Islam. Sebab, penulisan hadis merupakan salah satu cara transmisi hadis yang dianggap sah oleh para pakar hadis (Ibn As-Shalah, 1998 : 183). Mengomentari hal ini, Abdut Tawwab (2002 : 24) menyatakan bahwa harus diakui, para ulama hadis adalah orang-orang pertama yang mempelajari, meneliti serta membuat kaidah penulisan, penyalinan, dan validisasi tulisan melalui pencatatan hadis. Atensi mereka yang sedemikian tinggi terhadap ilmu dan kritik hadis, menilik setiap perawi, penulisan nama dan julukan perawi secara akurat, pembedaan antara nama-nama perawi yang mirip dan hal-hal lainnya menjadi fondasi kuat bangunan ilmu tahqîq nantinya.

     Jejak-jejak teori filologi dalam khazanah ilmu hadis ini bisa dilacak mundur hingga ke zaman para tabi’in. Diriwayatkan oleh Ibn As-Shalah, seperti dinukil oleh Syakir (2007 : 23), suatu ketika ‘Urwan Ibn Az-Zubair (w 94 H) bertanya pada anaknya, Hisyam, “Apakau engkau sudah menulis (hadis)?”

Hisyam menjawab: “Sudah.”

‘Urwah bertanya lagi: “Sudahkah kau bandingkan catatanmu?”

“Belum,” jawab Hisyam.

“Berarti engkau belum menulis!” kata ‘Urwah.

     As-Syafi’i (w 204 H) pula pernah berkata, “Orang yang menulis tetapi tidak membandingkan sama seperti orang yang memasuki kamar mandi (untuk membuang hajat) tetapi tidak beristinjak.”

     Kedua kisah di atas dan beberapa kisah lainnya mengisyaratkan bahwa langkah perbandingan muqâbalah antara naskah salinan dan naskah utama atau antara beberapa naskah sudah dikenal jauh di masa para sahabat dan tabi’in.

     Abdut Tawwab (2002 : 25-27) menambahkan bahwa ada beberapa karya ulama Islam yang sudah menunjukkan kematangan metode tahqîq di dunia Islam, karya-karya tersebut antara lain:


1. Al-Muhaddits Al-Fâshil Baina Ar-Râwi wal Wâ’i, karya Al-Hasan Ibn Abdurrahman Ibn Khallad Ar-Ramahurmuzi (w. 360 H).

2. Al-Ilmâ’ Ilâ Ma’rifati Ushûl Ar-Riwâyah wa Taqyîdi As-Samâ’, karya Al-Qadhy ‘Iyâdh Ibn Musa Al-Yahshubi (w. 544 H)

3. ‘Ulûm Al-Hadîts, karya Ibn As-Shalâh (w. 616 H)

4. Tazkirah As-Sâmi’ wa Al-Mutakallim fî Adab Al-‘Âlim wa Al-Muta’allim, karya Badruddin Ibn Jama’ah (w. 733)

5. Ad-Durr An-Nadhîdh fî Adab Al-Mufîd wa Al-Mustafîd, karya Badruddin Al-Ghazzy (w 983 H)

6. Al-Mu’îd fî Adab Al-Mufîd wa Al-Mustafîd, karya Abdul Basith Ibn Musa Al-‘Almawy (w 981).

     Menurut Diyab (1993 : 22) proses pengumpulan Alqur’an di masa khalifah Utsman Ibn Affan dapat disebut sebagai proses tahqîq pertama yang ada dalam tradisi keilmuan Islam. Dengan demikian, mushaf kitab suci Alqur’an – mushaf secara fisik yang terbuat dari kertas – merupakan hasil kerja filologi pertama yang sampai kepada manusia di abad ini dalam keadaan sudah dikodifikasi dan divalidasi dengan baik.

     Di sisi lain, gerakan kodifikasi, penulisan dan tahqîq karya-karya sastra arab yang mulai menggeliat di akhir abad ke-1 Hijriyah, menurut Diyab, bisa dikatakan sebagai awal mula gerakan filologis yang bertujuan untuk menjaga serta melestarikan karya-karya sastra bangsa Arab sejak zaman Jahiliyah. Namun demikian, manuskrip tertua di bidang adab (sastra Arab) yang ditemukan, sejauh penelitian Awad (1982 : 77) justru tercatat ditulis tahun 249 H (863 M). Manuskrip tersebut berjudul Adâb Al-Falâsifah karya Hunain Ibn Ishaq.

     Seiring dengan masuknya Islam ke Mesir tahun  20 H/641 M (Abdul Hadi, 1999 : 37) melalui ekspansi yang dipimpin oleh Amru Ibn Al-‘Ash, para sahabat dan tabi’in turut pula bermukim di Mesir. Babak baru gerakan keilmuan di Mesir pun dimulai dengan masuknya ilmu-ilmu keislaman.

     Perpecahan internal umat Islam yang dimulai dengan meninggalnya Utsman Ibn Affan membawa dampak buruk bagi transmisi hadis. Perpecahan tersebut dimanfaatkan oleh garis keras fanatik dari setiap golongan untuk membuat dan menyebarkan hadis palsu yang mendukung golongannya atau menjatuhkan lawan. Fenomena hadis palsu ini mau tidak mau akhirnya menyebar ke daerah-daerah di bawah kekhalifahan Islam, termasuk Mesir.

     Namun demikian, penulis belum menemukan peninggalan berupa manuskrip yang dapat menunjukkan bukti kegiatan tahqîq sebelum abad kedua Hijriyah. Kegiatan penulisan, penyalinan dan pengumpulan naskah yang penulis temukan dilakukan pada tahun 199 H oleh Asy-Syafi’i dan murid-muridnya. Sebagaimana diketahui, Asy-Syafi’i memasuki Mesir pada tahun 199 H, ia lalu menetap dan wafat di sana. Pergulatan Asy-Syafi’i dengan pemikiran-pemikiran lokal saat itu menghasilkan beberapa karya. Ar-Rabi’ Ibn Sulaiman, murid Asy-Syafi’i kemudian berinisiatif mengumpulkan dan menulis ulang beberapa karya Asy-Syafi’i dalam satu buku induk yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan “Al-Umm”. Dalam menulis buku ini, Ar-Rabi’ menjelaskan secara jujur bagian mana yang langsung ia dengar dari Asy-Syafi’i, bagian mana yang ditulis oleh Asy-Syafi’i sendiri dan bagian mana yang terlewat oleh Ar-Rabi’ (Asy-Syafi’i : 9-10). Ini menunjukkan bahwa metode periwayatan ilmu hadis pada akhirnya digunakan oleh para sarjana Islam untuk meriwayatkan karya-karya ulama lainnya dalam disiplin keilmuan yang berbeda. Dua buku lain yang ditulis oleh Asy-Syafi’i di Mesir adalah Ikhtilâf Al-Hadîts dan Ar-Risâlah. Ar-Risalah sendiri dicatat oleh Ar-Rabi’, sementara Asy-Syafi’i mendikte setiap katanya.

Peletak pertama teori dan metode filologi

     Seperti sudah dikenal luas, teori dan praktik filologi di Mesir sudah dilakukan oleh bangsa Yunani di Alexandria pada abad ke-3 SM. Meski demikian, berdasarkan perkembangan teori dan studi hadis, para sarjana Islam menyatakan bahwa kaum muslimin adalah peletak pertama teori dan metode filologi yang mapan, jauh sebelum Barat.

     Hal tersebut dengan tegas diungkapkan Syakir (2007 : 15), Abdut Tawwab (2002 : 14) dan Diyab (1993 : 14). Menurut Abdut Tawwab, langkah maju peradaban Islam mendahului Barat dalam menemukan kaidah tahqîq salah satunya dibuktikan dengan proyek validasi kumpulan hadis Shahîh Al-Bukhârî yang dilakukan oleh Al-Yûnini (w 701 H). Al-Yûnini dianggap berhasil menyeleksi manuskrip-manuskrip Shahîh Al-Bukhârî, menilik dengan amat teliti jalur-jalur periwayatan buku tersebut hingga buku tersebut bisa dinikmati hingga saat ini. Dengan demikian, menurut teori Abdut Tawwab, setidaknya para sarjana Islam telah memapankan teori filologi dalam ilmu hadis 200 tahun sebelum sarjana Barat. Namun, bila merujuk kepada buku ilmu hadis pertama, Al-Muhaddits Al-Fâshil karya Al-‘Amlawi (w 360 H/ 970 M) maka kaum muslimin sudah mendahului Barat selama lebih kurang lima abad. Buku  Al-Muhaddits Al-Fâshil sudah menjelaskan dengan gamblang teori penulisan, penyalinan, tanda baca, penggunaan apparatus criticus, peletakan bab, tata cara pengoreksian kesalahan dan sebagainya.

     Diyab (1993 : 14) menambahkan bahwa para sarjana Barat sendiri baru menggeluti dunia filologi pada abad ke-15 M saat gerakan revitalisasi sastra Yunani dan sastra latin klasik berlangsung di sana.

Filologi Mesir di Era Modern

     Menurut Abdut Tawwab (2002 : 59) kata “tahqîq” pertama kali dicantumkan dalam penerbitan Mesir pada tahun 1914. Saat itu, salah seorang filolog (penahkik) pertama Mesir, Ahmad Zaki Pasya, menerbitkan dua buah buku karya Ibn Al-Kalby, yakni Ansâb Al-Khail  dan Al-Ashnâm. Setelah ia teliti kedua buku tersebut, ia validasi, konkretisasi, lalu ia terbitkan melalui percetakan Dar Al-Kutub di Cairo.

     Baik Abdut Tawwab maupun Diyab, sama-sama menyatakan bahwa Zaki Pasya sangat terpengaruh oleh orientalis. Hal ini tidak mengherankan, sebab Zaki Pasya memang bersentuhan secara intens dengan para orientalis.

     Saat berumur 25 tahun, oleh pemerintah Mesir kala itu, Zaki Pasya diutus mewakili Mesir untuk menghadiri konferensi internasional orientalis di London pada tahun 1892. Keberangkatan Zaki Pasha boleh dikatakan sebagai awal mula persentuhan antara dunia filologi Mesir dengan dunia filologi Barat. Tentu saja keberadaannya di London tidak disia-siakan. Zaki Pasya memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berkeliling ke pusat-pusat manuskrip yang ada di sana dan berdialog langsung dengan para filolog Barat.

     Meski banyak belajar dari para orientalis, ternyata Zaki Pasya memiliki nasionalisme yang sangat tinggi. Sepulang dari konferensi di London, sikapnya dan cintanya pada khazanah kelimuan dan kesusastraan Arab semakin menggebu-gebu. Pada tahun 1910, ia mengajukan proposal proyek Ihyaâ` Al-`Adab Al-‘Arabiyyah (Revitalisasi Kesusastraan Arab) kepada pemerintah Mesir. Gayung bersambut, pemerintah Mesir menyetujui sekaligus menunjuknya sebagai penanggungjawab.

     Zaki pasha juga merupakan orang Arab pertama yang memanfaatkan teknologi dalam meneliti naskah. Saat bertolak ke London, ia membawa sepuluh buku hasil edisi sepuluh manuskrip sastra Arab yang ia kerjakan sendiri (Diyab, 1993 : 97 – 98). Manuskrip yang sudah ia edisi, ia bawa ke London dalam bentuk foto (mikrofilm).

     Saat konferensi orientalisme di Athena tahun 1919, Zaki Pasya melontarkan sebuah isu penting dalam dunia filologi. Ia mengangkat soal kejujuran (amanah) dalam menukil (mengutip) karya para pendahulu, lalu apakah para penerbit boleh mengubah, menghapus atau memperbaiki tulisan mereka, atau manuskrip asli tersebut harus diterbitkan apa adanya? Anggota sidang konferensi tersebut akhirnya memutuskan bahwa manuskrip yang akan diedisi dan diterbitkan harus diterbitkan apa adanya.

     Peran para orientalis kemudian mencuat lagi saat Bergestrasser, seorang orientalis dari Jerman, menerbitkan buku Ushûl Naqd An-Nushûsh wa Nasyr Al-Kutub. Buku tersebut awalnya adalah sejumlah kuliah umum yang ia sampaikan pada mahasiswa program pascasarjana, jurusan Bahasa Arab di Fakultas Adab Universitas Cairo pada tahun 1931. Kuliah-kuliah tersebut kemudian dikumpulkan oleh muridnya Dr. Muhammad Hamdi Al-Bakri dan terbitkan kembali tahun 1969. Saat ditulis tahun 1931, buku ini merupakan buku pertama dalam bidang filologi yang ditulis dalam bahasa Arab.

     Selanjutnya, Abdussalam Harun, seorang filolog Mesir generasi awal juga menerbitkan buku Tahqîq An-Nushûsh wa Nasyruha pada tahun 1954. Buku ini merupakan buku filologi karya orang Arab pertama yang dicetak dan dipublikasikan secara luas (Abdut Tawwab, 2002 : 59). Sementara itu menurut Al-‘Athiyyah (2014 : 103) sebelumnya, tepatnya pada tahun 1944, Muhammad Mandur juga telah menulis dan memublikasikan dua artikel singkat tentang kaidah kerja filologi terhadap manuskrip di majalan Ats-Tsaqafah. Dua artikel tersebut merupakan kritiknya terhadap buku Qawanin Ad-Dawawin karya Ibn Hammaty Al-Qibthy. Dua artikel tersebut kemudian ia terbitkan kembali pada tahun yang sama. Dengan demikian, Menurut Abdut Tawwab, orang pertama yang menerbitkan karya tentang filologi Arab adalah Abdussalam Harun, sementara menurut Al-‘Athiyyah, orang pertama yang menulis karya ilmiah tentang teori serta metode tahqîq adalah Muhammad Mandur.

     Setelah kedua tokoh tersebut, datanglah beberapa tokoh penting lainnya secara silih berganti. Seperti mata rantai yang bersambung, peneliti-peneliti ini terus memberikan kontribusi dalam teori serta metode filologi di Mesir. Para tokoh tersebut antara lain (Abdut Tawwab, 2002 : 59 dan Al-‘Athiyyah, 2014 104 – 105):

1. Dr. Shalahuddin Al-Munajjid, dengan artikelnya yang berjudul Qawa’id Tahqîq An-Nushûsh, diterbitkan di jurnal Institut Manuskrip Arab pada tahun 1955.

2. Dr. Aisyah Abdurrahman, dengan bukunya Muqaddimah fî Al-Manhaj, diterbitkan di Cairo pada tahun 1971. Sebelumnya, pada tahun 1950, hasil penelitian dan edisi teksnya terhadap manuskrip Risâlat Al-Gufrân karya Al-Ma’arry memperoleh penghargaan sebagai karya terbaik dalam bidang filologi dari Akademi Bahasa Arab Mesir.

3. Dr. Ramadhan Abdut Tawwab, dengan bukunya Fî Ushûli Al-Bahts Al-‘Ilmi wa Tahqîq An-Nushûsh, terbit tahun 1972 dan artikelnya Tahqîq At-Turats: Asâlibuhu wa Ahdâfuhu yang dipublikasikan pada tahun 1976.

4. Dr. Syauqi Dhaif, dengan bukunya Al-Bahts Al-Adabi yang diterbitkan pada tahun 1972.

5. Dr. Nuri Hamudi Al-Qaisi dan Dr. Sami Makki Al-‘Ani dengan buku mereka Manhaj Tahqîq An-Nushûsh wa Nasyriha yang diterbitkan tahun 1975.

6. Dr. Abdul Majid Diyab dengan bukunya Tahqîq At-Turâts Al-‘Arabi: Manhajuhu wa Tathawwuruhu, diterbitkan di Cairo pada tahun 1983

7. Dr. Mahmud Muhammad At-Thanahi dengan bukunya Madkhal Ilâ Târîkh Nasyri At-Turâts Al-‘Arabi, diterbitkan di Cairo tahun 1984.

8. Ahmad Syakir dengan bukunya Tashîh Al-Kutub wa Shun’u Al-Fahâris Al-Mu’jamah, diterbitkan pertama kali tahun 1993.

9. Isham Muhammad Asy-Syanthy, dengan bukunya Adawât Tahqîq An-Nushûsh: Al-Mashâdir Al-Âmmah, yang diterbitkan tahun 2007.

10. Dr. Marwan Al-‘Athiyyah, dengan bukunya Dalîl Al-Muhaqqiqîn wal Bâhitsîn fî Tahqîqâtihim wa Abhâtsihim, terbit di Cairo tahun 2014.


     Beberapa nama dalam daftar di atas adalah juga tokoh-tokoh pionir dalam dunia filologi Arab. Al-‘Athiyyah (2014 : 115) menyebutkan bahwa tokoh-tokoh filologi Arab kenamaan antara lain: Ahmad Syakir, Mahmud Muhammad Syakir, Abdussalam Harun, Ahmad Amin, Syauqi Dhaif, Aisyah Abdur Rahman (Bintu Asy-Syâthi`, Ahmad Saqr, Badawi Thabanah, Ahmad Al-Haufi, Muhammad Abu Al-Fahdl Ibrahim, Hali Ahmad Al-Bijawi dan Thahir At-Thanahi.

Percetakan di Mesir

     Percetakan pertama yang ada di Mesir adalah percetakan milik penjajah Perancis yang dibawa Napoleon ke Mesir pada medio 1801-1898. Percetakan ini digunakan Napoleon untuk menyebarkan propaganda politiknya di Mesir (Diyab, 1993 : 107). Percetakan kedua bernama Al-Mathba’ah Al-Ahliyyah adalah milik pribumi Mesir yang juga sudah ada sejak tahun 1801. Setelah kepergian Perancis dari Bumi Mesir, percetakan ini menetap di Cairo dan mencetak buku dalam bahasa Arab, Turki dan Persia.

     Pada tahun 1821, percetakan tersebut dipindahkan ke daerah Bulaq. Karena berada di Bulaq, akhirnya percetakan Al-Ahliyah berganti nama menjadi Percetakan Bulaq (Mathba’ah Bûlâq). Para pekerja dan editor di Percetakan Bulaq saat itu adalah mahasiswa-mahasiswa Al-Azhar yang telah mengikuti pelatihan penerbitan dan percetakan selama enam tahun. Percetakan Bulaq ini adalah salah satu percetakan paling penting dalam sejarah Mesir, bahkan dalam sejarah Timur Tengah pada umumnya.

     Percetakan Bulaq hingga kini masih dianggap paling berjasa dalam menghidupkan kembali manuskrip-manuskrip kebanggaan khazanah ilmu keislaman. Percetakan inilah yang pertama kali berani menerbitkan ensiklopedi-ensiklopedi ilmu-ilmu keislaman seperti kamus Lisân Al-‘Arab karya Ibnu Manzhur, Al-Umm karya Asy-Syafi’i, Tafsir At-Thabary, Fathul Bârî karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalany, Al-Aghâny karya Al-Asfahany, Al-Kitâb karangan Sibawaih, Minhâj As-Sunnah karya Ibnu Taimiyah, kamus Ash-Shihah karya Al-Jauhari, Al-Qâmûs Al-Muhîth karya Al-Fairuzabadi, Wafayât Al-`A’yân karya Ibn Khillikan dan sebagainya.

     Penerbitan buku-buku tersebut merupakan langkah penting dalam perkembangan filologi Arab. Sebab, proyek tersebut boleh dikatakan proyek edisi besar-besaran terhadap khazanah kesusastraan Arab. Hingga saat ini, beberapa buku terbitan Bulaq masih diperhitungkan keakuratannya. Tak bisa dipungkiri bahwa gerakan ini memberikan stimulan kuat bagi geliat revitalisasi khazanah keilmuan klasik Arab di masa-masa selanjutnya.

Pendirian Institut Manuskrip Arab

     Puncak perhatian bangsa Arab pada umumnya, dan Mesir pada khususnya terlihat pada tahun 1946, saat Liga Arab memutuskan untuk mendirikan Institut Manuskrip Arab (IMA) di Cairo. Institut ini merupakan salah satu pusat manuskrip yang terpenting dan tertua baik di kawasan Timur Tengah maupun dunia.

     Pada tahun 1945, lembaga ini masih berada di bawah Departemen Kebudayaan Liga Arab. Lalu pada tahun 1946 secara resmi nama lembaga ini diubah menjadi Ma’had Al-Makhthûthât Al-‘Arabiyyah, dan pada tahun 1955 lembaga ini diresmikan sebagai lembaga otonom.

     IMA sempat berpindah tempat ke Tunisia sejak tahun 1979 sampai 1981, lalu pindah ke Kuwait sampai tahun 1990, dan kembali lagi ke Cairo sejak tahun 1991 hingga sekarang. Lembaga ini bertugas mengumpulkan, memelihara, mendukung penelitian dan penerbitan manuskrip. (http://www.manuscriptsinstitute.org)

Pendirian IMA ini merupakan langkah penting dalam dunia pernaskahan Arab, baik di Timur Tengah maupun di Mesir secara khusus.

Peran Universitas dalam dunia pernaskahan

     Sebagai pusat kegiatan akademis, universitas tentu memainkan peran penting dalam perkembangan ilmu pernaskahan. Pada tahun 1928, Universitas Cairo memulai kontribusinya dengan menerbitkan manuskrip Az-Zakhîrah fi Ath-Thibb yang diedisi oleh George Shubhi, peneliti dari kampus tersebut (Diyab, 1993 : 111).

     Beberapa tahun setelahnya, yakni 29 September 1952, Liga Arab mendirikan Institut Riset dan Studi Arab (IRSA). Salah satu jurusan yang ada di IRSA saat ini adalah Jurusan Riset dan Studi Manuskrip untuk jenjang S-2 serta S-3. Jurusan ini adalah jurusan pertama yang fokus pada kajian filologis dan secara resmi memberi gelar S-2 dan S-3 dalam bidang filologi.

     Kampus-kampus lain, seperti Universitas Al-Azhar dan Universitas Cairo, memang tidak memiliki jurusan filologi secara khusus. Namun kampus-kampus ini tetap berperan dalam revitalisasi manuskrip dengan menjadikan proyek penelitian manuskrip sebagai bahan tesis serta disertasi mahasiswanya.

     Bedanya, di kampus-kampus besar seperti Cairo dan Al-Azhar, mahasiswa di kedua kampus tersebut hanya boleh meneliti manuskrip dalam bidang disiplin ilmu yang ia geluti saja. Sedangkan mahasiswa di IARS bebas memilih manuskrip di bidang apa saja untuk dijadikan bahan tesis dan disertasi. Selain itu, IARS memang mengajarkan kaidah dan metoder filologi secara formal melalui perkuliahan, sementara kampus-kampus lainnya membiarkan mahasiswanya belajar secara otodidak sembari diarahkan oleh pembimbing.

     Dengan masuknya universitas ke ranah filologi ini, maka kemudian dikenallah istilah tahqîq ‘ilmi dan  tahqîq ghair ‘ilmi atau tahqîq tijâri. tahqîq ‘ilmi adalah sebutan bagi hasil kerja filologis yang berlangsung di universitas-universitas, dilakukan oleh mahasiswa S-2 dan S-3 dengan pengawasan pembimbing. Istilah ini juga berlaku untuk hasil kerja para filolog ternama yang terkenal mumpuni dalam bidangnya. Sementara tahqîq ghair ‘ilmi atau tahqîq tijâri adalah sebutan bagi buku-buku atau manuskrip yang diterbitkan ala kadarnya, tanpa melalui proses validasi secara filologis. Buku-buku seperti ini biasanya diedarkan oleh para penerbit nakal yang hanya ingin mengeruk keuntungan materi tanpa mengindahkan amanah ilmiah.

Kesimpulan dan Penutup

     Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Mesir merupakan pelopor dalam dunia pernaskahan di Timur Tengah. Hingga saat ini, Mesir masih memainkan peran sentral, hal ini bisa dilihat dari kembalinya kantor pusat Institut Manuskrip Arab ke Cairo pada tahun 1991 hingga saat ini.

     Meski merupakan pelopor, namun agak sulit untuk melacak hasil kerja filologis di Mesir sejak abad ke-3 H hingga abad ke 12 H. Karya-karya sastra memang mudah ditemukan, tetapi proyek revitalisasi khazanah sastra tersebut justru didahului oleh para orientalis.

     Klaim beberapa peneliti bahwa sarjana Arab-Islamlah yang pertama kali meletakkan fondasi teori filologi mungkin bisa dibenarkan mengingat teori dan metode tahqîq sudah dibentuk secara matang oleh para pakar hadis jauh sebelum barat memulai proyek revitalisasi kesusastraannya.


Daftar Pustaka

Abdut Tawwab, Ramadhan, Manâhij Tahqîq At-Turâts Baina Al-Qudâmâ wa Al-Muhdatsîn, Maktabah Al-Khanji, Cairo: 2002

Abdul Hadi, Jamal, Fathu Mishra, Dar Al-Wafa, Cairo: 1999

Al-‘Athiyyah, Marwan, Dalîl Al-Muhaqqiqîn wal Bâhitsîn fî Tahqîqâtihim wa Abhâtsihim, Darul ‘Ula, Cairo: 2014

Al-Baghdadi, Al-Khatib, Taqyîd Al-‘Ilmi, Dar Al-Istiqamah, Cairo: 2008

Al-Hajiri, Muhammad Taha, Dirâsât fi At-Turâts, ‘Alam Al-Fikr, 1977

Asy-Syafi’i, Muhammad Ibn Idris, Ar-Risâlah, Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah, Beirut, tt.

Awad, Korkis, Aqdam Al-Makhthûthât Al-‘Arabiyyah fî Maktabât Al-‘Âlam, Kementrian Kebudayaan dan Penerangan, Irak: 1982

Diyab, Abdul Majid, Tahqîq At-Turâts Al-‘Arabi: Manhajuhu wa Tathawwuruhu, Dar Al-Ma’arif, Cairo: 1993

Ibn As-Shalah, Abu ‘Amru, ‘Ulûm Al-Hadîts, Dar Al-Fikr, Syria: 1998

Syakir, Ahmad, Tashîh Al-Kutub wa Shun’u Al-Fahâris Al-Mu’jamah, Maktab Al-Mathbû’ât Al-Islâmiyyah, Beirut: 2007

Share: