Sabtu, Mei 20, 2017

Lawala Wala Kuwata


 
Ditulis oleh: Tarli Nugroho


Awal Ramadhan, empat tahun yang lalu (berarti sekarang, tahun 2017, sudah 6 tahun), waktu saya masih tinggal di Sambilegi, ceramah malam pertama tarawih diberikan oleh Mohammad Mahfud Md., yang waktu itu masih Ketua MK. Ia bercerita mengenai sejumlah hal, namun yang paling mengesankan saya adalah cerita ini.

Ceritanya adalah mengenai seorang lelaki tua tukang becak yang sanggup menyekolahkan anak-anaknya hingga menjadi orang. Di atas kertas, sebenarnya muskil baginya untuk bisa mengantarkan anak-anaknya sekolah hingga perguruan tinggi. Namun, kemustahilan itu toh terlampaui juga.

Mahfud, yang mengenal lelaki itu, tentu saja penasaran. "Bagaimana bisa Bapak sanggup melakukan semua itu, apa yang sudah Bapak lakukan untuk anak-anak?!" kurang lebih, begitu pertanyaannya pada lelaki itu.

Dengan bahasa Jawa halus, lelaki itu menjawab tatag, "Saya hanya berusaha menjalankan pekerjaan saya dengan sebaik baiknya, Pak."

"Mosok hanya itu, Pak?" Mahfud masih penasaran. Ia berharap ada rahasia lain yang disimpan oleh lelaki itu.

Karena didesak, dengan wajah malu-malu akhirnya lelaki sepuh itu menjawab, "Sejak masih muda, saya rutin mengamalkan sebuah doa, Pak," ujarnya.

"Wah, doa apa itu?" Mahfud jadi kian penasaran.

"Nganu, Pak, doanya cuma pendek saja. Lha wong saya saja tidak banyak belajar agama," aku si lelaki pengayuh becak, sembari tersipu.

"Panjang dan pendeknya doa itu tidak masalah, Pak. Wah, tapi doanya bagaimana ya, itu?!" Pokoknya Mahfud semakin penasaran.

"Setiap kali saya mengayuh becak, sejak muda dulu, pada setiap kayuhan saya selalu membaca doa ini, 'lawala wala kuwata'. Nggih, ming mekaten," ujar si pengayuh becak. Kali ini raut mukanya penuh kebanggaan.

Mahfud Md. kontan tercenung. Sebagai lulusan pondok, ia tahu bahwa yang dimaksud oleh lelaki tua pengayuh becak itu sebenarnya adalah bacaan 'hauqalah', yang aslinya berbunyi "laa haula wala quwwata illa billah". Hanya, karena lelaki tua itu tak pernah belajar mengaji, maka ia hanya mengingat bacaan itu dalam redaksi yang lain, semampu yang didengarnya saja.

Tapi bayangkan, sungguh Allah memang Maha Pemurah dan Maha Pengasih, ujar Mahfud. "Bahkan sebuah dzikir yang redaksinya keliru pun diijabah-Nya," kelakar Mahfud dalam ceramahnya.

Dan memang, bukankah nilai sebuah doa tak terletak pada susunan redaksionalnya?! Bukankah Yang Kuasa tak mungkin keliru mendengar atau memahami maksud hambaNya?!

Tapi kita, yang fakir ini, masih saja gemar mempertengkarkan soal kemasan dan redaksional, sehingga sering jadi kehilangan esensi.

Share:

0 comments:

Posting Komentar